just for fun ^^

Tittle                        : Hard to Say I’m Sorry

Chapter tittle        : Inoo Stricken with Someone *chap.12

Cast                          : Yamada Ryosuke, Morimoto Ryutaro, Yabu Kouta, Shida Mirai, Minami Oku dll.

Rating                     : All age! ^^

Genre                      : Friendship, Family, Drama, Crack/Comedy

.

.

.

“Aku tak peduli. . Aku akan menunggumu sampai kau datang. .” kata Chinen.

“Percuma kau menungguku! Aku takkan pergi ke sana!” seru Mika sambil kembali ke tempat duduknya.

>>>SKIP<<<

^Pulang sekolah^

@Kelas 2-6

Chinen segera membereskan semua bukunya lalu pergi menuju ruang musik. Mika pun melihatnya dari kejauhan. Mika masih bimbang, apa dia harus pergi ke ruang musik atau tidak pergi. Sedang bingung-bingungnya tiba-tiba saja. . . .

“Mika-chan!!” sapa seseorang.

“Ah Yuma-kun! Ada apa?” tanya Mika.

“Ayo pulang ke asrama! Kau harus banyak istirahat!” kata Yuma pura-pura perhatian.

“Demo. . .” kata Mika terputus.

“Nande?” tanya Yuma heran.

“Eh? Iie, ayo pergi!” kata Mika lalu tersenyum. Yuma pun membalas senyumnya lalu pergi.

@Kelas 2-3 (di waktu yang bersamaan)

“Aih. . Cepat sekali bel tanda pulang berbunyi. .” kata Manami.

“Ahaha tak apalah! Daripada terlambat!” kata Shida tersenyum.

“Hey! Mau ke pulang ke asrama bareng?” tawar Kamiki dan Kanata.

“Sepertinya aku tidak. .” kata Shida.

“Aku juga tidak bisa! Gomen ne~” kata Manami.

“Daijoubu! Bagaimana dengan kalian?” tanya Kanata pada Yamada dan Ryu.

“Boleh deh!” kata Ryu.

“Tidak. . Gomen ne~” kata Yamada singkat dan dingin, langsung ia bangkit lalu berjalan keluar.

“Halo Yama-kun!” sapa Daiki yang berpapasan dengan Yamada di pintu kelas 2-3. Yamada hanya tersenyum tipis lalu pergi lagi. Daiki sedikit heran.

“Ada apa dengannya ya?” tanyanya heran.

“Halo Dai-kun!” sapa Shida.

“Oh, Halo! Jadi keliling?” tanya Daiki. Shida mengangguk.

“Baiklah. . Aku sudah dapat beberapa, kebetulan tadi aku berpapasan dengan anggota yang lain. . Kau?” tanya Daiki.

“Aku? Baru tau soal Riku-kun yang tak bisa hari Rabu dan Kamis saja. .” kata Shida lalu menengok ke arah Kamiki.

“Hey, Kamiki-kun! Bagaimana denganmu? Kau bisa bertugas di Perpus hari apa saja?” tanya Shida spontan.

“Eh? Aku? Aku bisa hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Nande?” tanya Kamiki.

“Aku dan Daiki sedang menyusun jadwal untuk pembagian tugas yang baru. Wakata, Arigatou Kamiki-kun! Ayo keliling, Dai-chan!” ajak Shida sambil menarik Daiki.

“Eh? Iya iyaa. . Jya Minna-san!” seru Daiki lalu mengikuti Shida.

“Aduh, Ryu-kun, Kamiki-kun, dan Kanata-kun! Aku duluan yaa! Jyaa~” kata Manami langsung berlari keluar.

“Sepertinya dia terburu-buru sekali ya!” kata Kanata.

“Iya. . Sudah belum Ryu-kun?” tanya Kamiki.

“Udah. . Yuk pergi!” kata Ryu.

Mereka pun pulang menuju asrama.

@Taman belakang sekolah

“Inoo-chan!! Gomen nee~ aku telat!” seru Manami sambil ngos-ngosan. Inoo melihat ke arah Manami.

“Ahahaha. . Daijobou, Manami-chan! Aku juga baru sampai. . Ayo duduk dulu! Kau pasti capek!” kata Inoo sambil menyuruh Manami duduk di dekatnya.

“Nande? Kenapa kau menyuruhku ke sini?” tanya Manami.

“Aku ada feeling tak enak. .” kata Inoo. Inoo bangkit dari tempat duduknya lalu sedikt menjauh dari kursi.

“Tak enak? Maksudmu?” tanya Manami penasaran. Manami pun mengikuti Inoo.

“Entah mengapa, aku punya firasat bahwa Yuma-kun sedang memecah belah kan persahabatan kita semua. .” kata Inoo.

“Eh? Masa sih? Mungkin itu hanya firasatmu saja, Inoo-chan!” kata Manami.

“Ya. . Mungkin. .” kata Inoo. Dari sudut mata kanannya, Inoo melihat sesuatu yang membuatnya kaget.

“Inoo-kun, nan desuka?” tanya Manami yang segera di tubruk oleh Inoo sehingga terjatuh ke tanah.

JLEB! Sebilah pisau tertancap di paha kanan Inoo. Cairan merah yang segar keluar deras karena tancapan itu.

“Arghh!!” Inoo mengerang sambil memegang kakinya.

“INOO-KUN!!” teriak Manami yang segera bangun dan menghampiri Inoo yang tidak terlalu jauh dari tempatnya terjatuh.

“Inoo-kun! Daijobou?!” seru Manami. Raut wajahnya berubah menjadi panik saat melihat paha kanan Inoo yang masih tertancap pisau.

“Tak apa. . Manami-chan! A. . . Aku. . . Ba. . Baik-baik. . Saja. .” kata Inoo terbata-bata dan tersenyum. Dia melakukannya agar Manami tidak panik dan menangis menyesal. Dia melihat ke arah orang yang menyerangnya. Ada bayangan seseorang yang berlari menjauh. Siapa dia? Batin Inoo.

“Seharusnya aku yang terkena ini! Mengapa kau menyelamatkanku?!!” seru Manami mulai menangis.

“Ja. . . Jangan Menangis. .!” kata Inoo. Dia berusaha melepaskan pisau dari pahanya. Cukup sulit juga. Inoo pun menariknya dengan cukup keras. Darahnya keluar semakin deras karena tarikan tersebut.

“ARGH!!!” Inoo kembali mengerang dengan keras.

“Ah! Inoo-kun!! Aku akan cari cara untuk menghentikan pendarahannya!” kata Manami. Manami pun segera berpikir keras. Lalu ia melihat sapu tangan Inoo yang dulu dipinjamkan padanya keluar dari saku celananya.

“Gomen ne!” kata Manami lalu menarik saputangan itu keluar.

“A. . Apa yang akan kau lakukan?!” tanya Inoo. Kini tubuh Inoo mulai dibasahi oleh keringat dingin. Kerah baju dan rambut nya sudah basah sekali.

“Aku akan menghentikan pendarahannya! Hanya ini yang dapat ku lakukan. . ku mohon bersabarlah. .” kata Manami sambil mengikat kencang sapu tangan Inoo di atas bekas tancapan pisau tadi.

“Arghh! Itu terlalu kencang!” kata Inoo kesakitan. Walau begitu ia masih sempat menyimpan pisau yang tadi tertancap di pahanya ke saku celananya.

“Gomen ne! Demo, aku memang sengaja mengeraskannya! Agar pendarahannya berhenti! Lihat. . darahnya sudah tidak sederas tadi! Sebaiknya aku antar kau ke Hikari’s Hospital sekarang!” kata Manami sambil membantu Inoo berdiri lalu memapahnya.

“Tidak! Jangan ke sana! Itu teralu jauh! Lagipula aku tak ingin luka ini terlihat banyak orang. . Ayo ke ruanganku saja!” seru Inoo. Inoo mencoba berjalan agar mengurangi beban Manami.

“Wakata! Kau jangan terlalu banyak bergerak Inoo-kun! Aku takut lukamu makin parah!” seru Manami. Dengan rasa bersalah yang masih menghantui Manami, Manami terus memapah Inoo kembali ke ruangannya.

***

@di depan Ruang F

“Yabu-kun!!!” sapa Ryu, Kanata, dan Kamiki saat melihat Yabu di depan ruang F sambil memasukkan kunci ke pintu.

“Ah! Ryu-kun! Kanata-kun dan Kamiki-kun juga di sini?” kata Yabu sambil tersenyum.

“Kami hanya pulang bareng saja.” Kata Kamiki tersenyum.

“Ya sudah. . Kita berpisah di sini Ryu-kun! Jyaa~” kata Kanata. Lalau Kanata dan Kamiki pun pergi.

“Mana yang lain Ryu-kun?” tanya Yabu.

“Eh? Yama-kun belum pulang? Tadi dia pulang duluan ko! Tadi aku bertemu dengan Daiki-kun di kelas. Ia sedang berkeliling dengan Shida-chan. Sedangkan Chinen-kun dan Inoo-kun aku tidak tau. .” lapor Ryu. Yabu mangut-mangut, lalu pandangannya berubah menjadi panik saat melihat ke belakang Ryu.

“Nan desuka, Yabu-kun?” tanya Ryu heran.

“Itu Inoo-kun bersama Manami-chan! Sepertinya Inoo-kun terluka!!” kata Yabu sambil pergi ke arah Manami dan Inoo. Ryu menengok lalu ikut menghampiri Inoo dan Manami.

“Ada apa denganmu, Inoo-kun??” tanya Yabu sambil mengambil alih tempat Manami. Manami pun melepaskan tangan Inoo yang sudah di pegang oleh Yabu.

“Inoo-kun di serang!” lapor Manami.

“Ko bisa?” tanya Ryu sambil memapah Inoo dengan memegang tangan yang satunya lagi.

“Nanti saja ceritanya! Ayo masuk ke kamar dulu!” kata Inoo sambil berjalan dengan dipapah oleh Yabu dan Ryu.

“Aku bagaimana?” tanya Manami.

“Kau ikut saja Manami-chan!” kata Yabu sambil membuka pintu Ruang F.

***

“Ayo masuk Mana-chan!” seru Ryu dari dalam ruangan. Manami pun masuk.

“Sumimasen!” seru Manami. Manami melihat-lihat sekeliling. Baru kali ini ia masuk ke ruangan laki-laki. Lalu dia cepat tersadar saat melihat Inoo di baringkan di sofa oleh Yabu dan Ryu.

“Wah! Aku tak menyangka! Kau berat juga ya Inoo-kun!” seru Ryu menjatuhkan diri ke sofa lain, begitu pula Yabu.

“Ohehehe. . . Apa aku seberat itu? Wah! Kasihan Manami-chan. Dia memapahku terus dari taman belakang sampai ke sini! Oh ya! Ayo duduk Manami-chan!” seru Inoo sambil tersenyum.

“Eh? Daijobou Inoo-kun! Tapi menurutku kau tak seberat itu.” Kata Manami sambil duduk di sofa dekat Inoo berbaring.

“Bagaimana lukamu? Boleh aku lihat?” kata Yabu sambil membuka perlahan celana Inoo *eits! Jangan mikir yang aneh-aneh ya! Maksudnya ngebuka celana bagian kanan dari bawah kaki! Bukan seluruh celana!* . Setelah terbuka, Yabu dan Ryu terkejut.

“Lukamu sangat parah, Inoo-kun! Kau harus segera di bawa ke Hikari’s Hospital sekarang juga!” seru Ryu sambil bersiap untuk memapah Inoo lagi.

“Cotto! Aku mau ganti celana dulu! Aku tak ingin ada yang tau tentang lukaku ini!” seru Inoo. Ryu pun kembali duduk.

“Wakata! Perlu bantuan?” tanya Ryu.

“Tolong simpankan celana panjang ku di tempat tidur dan bisa bantu aku lagi menuju kamar?” kata Inoo.

“Aku akan membantumu ke kamar!” kata Ryu dan Manami hampir bersamaan.

“Eh? Manami-chan! Biar aku saja. . Kau yang ambil celana Inoo-kun!” seru Yabu. Manami menggeleng.

“Iie. . . Lemari kan termasuk barang pribadi yang tidak sembarang orang bisa membuka. Apalagi aku, aku kan perempuan! Masuk kamar laki-laki saja seharusnya aku tak boleh kan?” kata Manami.

“Benar juga. . Demo, Daijobou ne?” tanya Yabu. Manami mengangguk.

“Wakata! Ayoo!! Keburu sakitku makin parah!” seru Inoo sambil sedikit tertawa. Manami dan Ryu pun segera memapah Inoo, sedangkan Yabu segera pergi ke kamar Inoo dan menyiapkan celana panjang di tempat tidurnya. Manami dan Ryu membaringkan Inoo di tempat tidurnya.

“Kau yakin tak perlu bantuan?” tanya Yabu sekali lagi. Inoo mengangguk.

“Ayo keluar! Aku mau ganti celanaku! Atau kalian mau melihatnya?” seru Inoo sambil nyengir, sehingga menghilangkan rasa khawatir Yabu, Ryu, dan Manami.

“Tentu tidak! Enak saja!” seru Manami bergegas keluar. Yabu, Ryu, dan Inoo pun tertawa. Lalu Inoo melirik Yabu dan Ryu.

“Kalian?” sambil tersenyum licik.

“He! Tidak akan! Baik kami keluar!” seru Yabu dan Ryu.

“Cotto!” seru Inoo.

“Nani?” tanya Yabu dan Ryu.

“Ini! Pisau ini yang telah menancap di paha ku! Seharusnya sidik jariku memang ada, mungkin saja ada sidik jari si pelaku kan?” kata Inoo.  Yabu dan Ryu berpandangan.

“Wakata. Sebentar aku ambil sarung tangan dulu.” Kata Yabu sambil pergi ke kamarnya. Tak lama Yabu pun kembali.

“Sini!” seru Yabu mengambil pisaunya. Yabu pun mengamatinya.

“Baiklah! Kami akan keluar sekarang!” seru Ryu. Yabu dan Ryu pun keluar dari kamar Inoo.

***

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa di serang?” tanya Yabu.

“Begini. . .” kata Manami yang lalu menceritakan kejadian tadi.

“Wahh. . . Itu bahaya sekali! Siapapun yang telah melakukan ini! Ini sudah kelewatan!” kata Ryu kesal.

@sementara itu. . .

“Hey, Dai-kun! Aku rasa kita sudah dapat keterangan dari para pengurus!” seru Shida sambil melihat buku catatannya.

“Yup! Bantu aku menyusunnya ya!!” kata Daiki sambil memandang Shida dengan wajah melas.

“Ahahaha. . . Iya iya! Kalau begitu kita sekarang ke mana? Mau menyusun di mana?” tanya Shida.

“Di ruangan ku saja! Mau?” tanya Daiki. Shida langsung melotot.

“HE??!! APA KAMU BILANG?!” seru Shida berapi-api. Daiki terkejut.

 bersambung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: