just for fun ^^

Tittle                        : Hard to Say I’m Sorry

Chapter tittle        : Right as Trivet! Really? *chap.14

Cast                          : Yamada Ryosuke, Morimoto Ryutaro, Yabu Kouta, Shida Mirai, Minami Oku dll.

Rating                     : All age! ^^

Genre                      : Friendship, Family, Drama, Crack/Comedy

.

.

.

“YAMA-KUN! CHINEN-KUN!” teriak si pendobrak. Tidak sendirian, tapi bertiga.

“Itu di sana!” seru salah satunya. Mereka pun menghampiri Yamada dan Chinen.

“Yama-kun! Daijobou ne?” tanya orang dengan wajah hamster itu. Ia langsung membuka lakban yang menutupi mulut Yamada. Dengan nafas berat Yamada menjawab.

“Daijobou, Ryu-kun. . .” kata Yamada lirih dan langsung pingsan dengan sukses. Ryu kaget. Segera ia melepaskan tali di tangan dan di kaki Yamada. Lalu dengan sekuat tenaga ia menggendong belakang Yamada. *kasihan -.- Yama-chan kan berat #ditamparDenganSukses*

Tak jauh dari Yamada. Daiki dan Yabu –yang bersama Ryu mendobrak pintu- segera melepaskan lakban dan ikatan di tangan dan kaki Chinen. Berbeda dengan Yamada yang masih bisa sedikit berbicara, Chinen lansung jatuh dari kursi. Dengan sigap Daiki tangkap. Ya, Chinen memang sudah pingsan dari tadi. Saat Daiki akan menggendong Chinen, Yabu menahannya lalu menggeleng.

“Jangan! Kau sepertinya sudah kecapean menggendong Shida dari tadi. Biar aku yang menggendongnya!” ujar Yabu. Daiki pun membiarkan Yabu mengambil alih posisinya.

Segera mereka berlari menuju Hikari’s Hospital. Mereka harap-harap cemas dengan keadaan Yamada dan Chinen itu.

***

@Hanari 2 (ruang rawat Inoo) *waktu yang bersamaan*

“Kenapa kau bilang mereka ada di gudang?” tanya Manami.

“Apa jangan-jangan kau membohongi kami, Mika-chan?” tanya Inoo.

“Aku tidak berbohong! Aku bersungguh-sungguh!” seru Mika yang sekarang tengah terduduk di sofa sebelah tempat tidur Inoo sekarang.

“Lalu kenapa kau tau itu?” ulang Manami yang sekarang duduk di sebelah Mika.

“Aku. . . Aku melihat saat Chinen di pukuli. . .” kata Mika mulai bercerita.

~flashback Mika (on)~

Awalnya aku memang di antar oleh Yuma-kun sampai di depan ruangan. Setelah itu Yuma-kun langsung meninggalkan. Ada perasaan tak enak di diriku. Aku merasa bersalah telah meninggalkan Chinen di ruang musik. Akhirnya ku putuskan untuk pergi ke ruang musik saja.

Di perjalanan, aku terdiam kaget karena melihat 2 orang yang sedang berjalan ke arah ruang musik. 1 orang berpakaian serba hitam dan hampir seluruhnya tertutup kecuali matanya. Juga orang tersebut membawa sebilah pisau. 1 orang yang lainlah yang sangat mengejutkanku. Dia berpakaian seragam Hikari perempuan dan berwajah sama persis denganku. Hanya yang membedakan adalah tinggi badan ku dengannya. Mereka tengah berbincang-bincang. Gerak-gerik mereka pun sangat mencurigakan. Akhirnya dengan sangat hati-hati, aku mengikuti mereka.

Benar dugaanku! Mereka pergi ke ruang musik. Mereka berhenti sejenak di ruang musik. Aku mengintip mereka dari belokan dekat kelasku. Walau sedikit jauh dari tempat kejadian, aku masih dapat mendengar dan melihat dengan jelas. Aku melihat orang yang mirip dengan ku mengolesi pipinya dengan cairan berwarna merah segar. Seperti darah dan pipinya seperti di gores oleh pisau. Orang itu lalu terduduk di dekat tembok.

Kejadian berikutnya paling mengejutkan. Tiba-tiba saja orang itu berteriak dengan mengucapkan kata ‘Chi-chan!’ dan orang yang serba hitam langsung menodongnya dengan pisau. Tak lama Chi-chan keluar lalu mendorong orang serba hitam itu. Saat Chi-chan tengah jongkok di depan orang yang mirip denganku, ia segera di dorong dengan keras. Aku menyimpulkan tulang punggungnya akan sedikit retak mungkin. Lalu orang ‘yang mirip aku’ segera bangun dan menendang-nendang perut Chi-chan sambil tersenyum licik. Orang itu lalu memanggil orang ‘yang serba hitam’. Orang ‘yang serba hitam’ itu segera menghampiri lalu membangunkan Chi-chan lalu menonjok perut dan pipinya. Chi-chan terlihat sangat pasrah. Setelah itu tengkuk Chi-chan segera di pukul.

Sedang terkejutnya dengan itu, tanpa ku sadari Yuto sensei datang. Dia memanggilku. Aku berusaha keras menghalanginya untuk tidak melihat yang terjadi. Tapi aku malah di curigai dan aku di suruh menuju ruang guru bersamanya. Aku pun di beri pertanyaan-pertanyaan. Aku menjawabnya, tentu saja aku berbohong. Aku pun diperbolehkan pulang.

Saat keluar, aku melihat Chi-chan sedang di seret menuju suatu tempat. Ternyata setelah aku ikuti mereka. Mereka menyeret Chi-chan menuju gudang belakang sekolah yang jarang di jumpai oleh orang-orang. Aku pun melihat Yama-kun yang juga di seret oleh 2 orang ‘yang serba hitam’ juga. Dan yang paling sangat mengejutkan. Di situ juga ada YUMA-KUN! Setelah melihat itu semua aku segera berlari menuju ruangan kalian! ‘HEY!SAY!Jump’! tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Aku dengar dari orang-orang kalian sedang menuju Hikari’s Hospital. Aku pun berlari menuju Hikari’s Hospital. Lalu aku di beri tau ruangan Inoo-kun. Segera aku berlari ke sini. Dengan harapan kalian segera menyelamatkan Chi-chan dan Yama-kun.

~flasback Mika (off)~

Mika segera menghela nafas setelah bercerita panjang lebar. Manami dan Inoo yang mendengarnya sangatlah terkejut.

“Tadi jika aku tak salah dengar, kau menyebut nama Yuma-kun bukan?” tanya Inoo memastikan. Mika mengangguk.

“Apa ini semua adalah rencana Yuma-kun? Termasuk orang yang melempar pisau ke arahku dan akhirnya kena Inoo-kun itu?” tanya Manami.

“Mungkin saja. Tapi jika itu benar, mengapa ia melakukan itu?” tanya Inoo. Manami dan Mika menggeleng. Mereka pun terdiam.

“Ano~ Mana-chan, Inoo-kun! Gomen ne!” kata Mika sambil melihat ke arah Manami lalu Inoo. Manami dan Inoo berpandangan.

“Untuk apa?” tanya mereka berbarengan.

“Aku sudah memarahi kalian di kantin tadi. Aku sudah tak mempercayai kalian soal Yuma-kun. Gomen ne! Hontouni Gomennasai!” seru Mika.

“Ahh~ Masalah itu. .” kata Inoo sambil mengangguk-angguk.

“Daijobu Mika-chan! Harusnya aku yang minta maaf. Gomen ne! Aku tidak memperhatikan mu lagi.” Kata Manami sambil tersenyum. Mika pun ikut tersenyum.

“Arigatou nee, Mana-chan!” seru Mika sambil memeluk Manami. Manami pun membalas pelukan Mika.

“Ekhm. . . orang cakep bin lucu di sini!” seru Inoo memasang wajah so keren dengan memalingkan muka ke arah jendela. Manami dan Mika pun melepaskan pelukan mereka lalu melirik ke arah Inoo. Lalu mereka saling menatap dan menyunggingkan tawa kecil.

“Benarkah itu? Di mana?” tanya Manami pura-pura kaget.

“Huaaaa!! Mana mana??!! Apa ada murid baru di kelasmu Inoo-niichan?” tanya Mika.

“He??!! GUBRAK!” seru Inoo sambil garuk-garuk kepala yang gak gatal. Manami dan Mika kembali bertatapan lalu kembali menatap Inoo dengan cengiran khas mereka.

“Gomennasai Inoo-niichan!” seru Manami dan Mika sambil cekikikan.

“Argghhh!! Jangan memanggilku seperti itu! Aku kan seumuran dengan kalian. .” kata Inoo sambil menggembungkan (?) pipinya + bibir yang maju 5 cm.

“Aaaaa~ Inoo-kun!! Kawaiiiii~” seru Manami dan Mika.

“Aku emang lucu koo!!” seru Inoo sambil tersenyum menyeringai.

“Arrgghhh! Kita salah ngomong Mana-chan!” kata Mika. Manami mengangguk.

“Kami cabut kata-kata kami!!” kata Manami.

“Ohhh tidak bisaaaa!” seru Inoo sambil memeletkan lidah. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka cukup keras. Orang yang membuka pintu tersebut segera masuk dengan keringat menghiasi seluruh badan termasuk wajah + nafas yang tak teratur.

“Dai-kun! Ada apa? Ayo duduk dulu!” seru Manami sambil memapah Daiki untuk duduk.

“I. . . Itu. . . hosh. . hosh. . Me. . Mere. . hosh. . hosh. . hh~~” kata Daiki terbata-bata karena capek.

“Atur dulu nafasmu, Dai-kun!” seru Inoo. Daiki pun mengatur nafasnya.

“Bagaimana Chi-chan dan Yama-kun?” tanya Mika setelah Daiki sudah bisa mengatur nafasnya kembali.

“Chinen-kun dan Yama-kun sudah di perikasa + di obati! Mereka sudah berada di kamar masing-masing. Chinen-kun di jaga oleh Yabu-kun dan Yama-kun di jaga oleh Ryu-kun. Keadaan Chinen-kun dan Yama-kun cukup parah. Mereka sekarang masih terbaring tak sadar dan mereka sedang di beri alat untuk memasukkan oksigen dan darah.” Kata Daiki.

“Souka. . Bagaimana Shida-chan? Apa ada perkembangan?” tanya Manami.

“Dokter dari kota sudah datang. Sekarang Shida-chan sedang di operasi.” Jawab Daiki. Inoo, Manami, dan Mika membuang nafas lega.

“Baguslah! Semua menjadi membaik lagi. .” kata Mika. Daiki mengangguk. Inoo dan Manami hanya terdiam.

“Aku ingin melihat Chi-chan. Boleh aku keluar?” tanya Mika.

“Tentu saja! Silahkan. Ah ya, arigatou untuk informasinya!” kata Inoo tersenyum. Mika mengangguk sambil berjalan ke arah pintu.

“Mika-chan! Aku ikut!” seru Manami bangkit dari sofa dan berjalan menuju Mika yang menunggu di pintu.

“Hey, Inoo-kun! Apa yang terjadi?” tanya Daiki. Inoo pun memberi tahu pengalaman Mika. Daiki sampai terkaget-kaget mendengarnya.

“Ja. . Jadi semua ini gara-gara. . . Yuma-kun?” tanya Daiki.

“Yap. Kita harus waspada dengannya! Sudah 4 korban yang dia celakai!” seru Inoo.

“Eh? 4?” tanya Daiki bingung.

“Yama-kun, Chinen-kun, Shida-chan, dan aku!” jelas Inoo.

“Aku sedikit ragu. Jika Yama-kun dan Chinen-kun memang sudah jelas Yuma-kun lah yang salah. Tapi, kau dan Shida-chan? Bagaimana caranya?” tanya Daiki.

“Aku? Sudah pasti orang tersebut melempar pisau padaku. Entah juga pada Manami-chan. Shida-chan? Aku dengar dia terkena racun. Tapi aku juga belum tahu bagaimana racun tersebut bisa ada di dalam tubuh Shida-chan.” Jelas Inoo.

“Ahh~ sudahlah! Yang penting keadaannya sudah membaik!” kata Daiki sambil tersenyum. Inoo menangguk pelan.

***

“Sumimasen. . .” kata Mika dan Manami saat memasuki salah satu kamar di Hikari’s Hospital.

“Aaa~ Mika-chan, Manami-chan. Ayo masuk. .” kata Yabu ramah.

“Arigatou Yabu-kun. .”kata Mika dan Manami. Yabu tersenyum.

“Chi-chan terlihat seperti orang yang benar-benar sekarat ya. .” kata Mika pelan. Manami menyetujuinya.

“Ya kau benar. . Aku kasihan melihatnya. Ah ya, bisa kalian ganti posisiku sebentar? Aku ingin menjenguk Inoo-kun sebentar,” kata Yabu sambil berdiri. Mika mengangguk. Yabu pun keluar dari ruangan.

“Cepat lah sadar, Chi-chan!” kata Mika cemas.

“Ano~ Mika-chan. Aku mau melihat keadaan Yama-kun ya. .” kaa Manami. Mika mengangguk. Manami pun pergi melihat Yamada.

***

“Sumimasen. . .” kata Manami sambi membuka pintu kamar Yamada.

“Hai. . Masuk saja. .” kata Ryu yang berjaga di dalam. Manami pun masuk dan menghampiri Yamada.

“Kau sudah sadar rupanya. Bagaimana keadaanmu?” tanya Manami.

“Daijobou. . Kau tak usah khawatir. Bagaimana dengan Chinen-kun? Dia lebih parah dariku bukan?” tanya Yamada. Manami mengangguk.

“Chi-chan sampai saat ini belum sadar. Ia masih terbaring tak berdaya. Di lihat dari kondisi kalian dan cerita dari Mika-chan, kalian pasti sangatlah sengsara,” kata Manami cemas.

“Begitulah. . Nee~ aku kan sudah bilang, kau tak perlu cemas. Kondisiku hampir pulih total. 2 hari kedepan aku mungkin sudah tidak berbaring di tempat tidur ini. Melainkan di tempat tidurku di Asrama. Chinen-kun juga pasti baik-baik saja. Oh ya, siapa lagi yang terluka?” tanya Yamada.

“Inoo-kun dan Shida-chan pun terluka,” kata Ryu.

“Terluka bagaimana? Ko bisa?” tanya Yamada heran. Manami menceritakan tentang Inoo. Sangat detail sekali ia menceritakannya.

“Sampai detik ini aku masih merasa bersalah ke Inoo-kun. Harusnya aku yang berbaring dengan kaki terluka. Bukannya Inoo-kun,” keluh Manami sambil sedikit menunduk.

“Mana-chan, keep smile!” kata Ryu sambil tersenyum dan menepuk pelan pundak Manami. Manami menengok ke arah Ryu lalu tersenyum tipis.

“Bagaimana dengan Shida-chan?” tanya Yamada pelan dengan mimik muka yang sulit diartikan. Antara cuek dan cemas.

“Yang aku baru tau, di dalam tubuhnya bersarang racun yang mematikan. Entah bagaimana caranya racun tersebut berada di dalam tubuh Shida-chan. Sekarang ia tengah di operasi,” kata Manami.

“Oh begitu. .” kata Yamada pelan sambil memalingkan wajahnya. Matanya memancarkan kelegaan di dalam hatinya itu.

“Yama-kun. . . Sebenarnya ada apa denganmu dan Shida-chan?” tanya Manami.

“Eh? Itu. . . .”

***

“Sensei operasinya sudah selesai. .” kata Fujikaya –dokter dari kota- sambil mengelap keringatnya yang sudah membasahi tubuhnya.

“Arigatou, Fujikaya-san! Maaf telah membuatmu repot. .” kata Amami sensei. Fujikaya hanya mengangguk lalu keluar dari ruang operasi.

“Nee~ Fuma-san, tolong jaga Shida-san sebentar. Sensei berbicara dahulu dengan Fujikaya-san,” kata Amami sensei.

“Wakarimasuta, Sensei!” kata Fuma. Amami sensei pun keluar menyusul Fujikaya.

“Daijobou desuka, Shida-neechan?” tanya Fuma melihat ke Shida –kaka kelasnya-.

“Haii, daijobou. . Hanya aku merasa sedikit aneh,” keluh Shida.

“Masih ada sedikit efek obat bius. Oleh karena itu neechan merasa ada yang aneh. Tapi syukurlah neechan sudah membaik,” kata Fuma.

“Arigatou ne, Fuma-kun!” kata Shida tersenyum. Fuma mengangguk.

“Sumimasen. . .” seru seorang gadis.

“Aa~ Mayu-chan, Nan desuka?” tanya Fuma.

“Ano~ aku di suruh Amami sensei membantumu merapikan ruang operasi ini sekaligus memindahkan Shida-neechan ke ruangannya,” kata Mayu.

“Souka. Arigatou, Mayu-chan. Kita bisa membereskan ruang ini nanti. Ayo kita pindahkan dulu Shida-neechan ke ruangannya,” kata Fuma sambil mendorong tempat tidur Shida. Mayu mengangguk lalu membantu Fuma mendorong tempat tidur Shida.

***

“Argh. . . .” rintih Chinen pelan.

“Eh? Daijobouka, Chi-chan?” tanya Mika.

“Daijobou, Mika-chan. Di mana aku?” tanya Chinen sambil melihat sekelilingnya.

“Kau di Hikari’s Hospital. Jangan banyak bergerak. Kau istirahat saja. .” kata Mika.

“Haii. .” kata Chinen. Ia kembali memejamkan matanya. Cukup lama, baru membuka matanya kembali.

***

“Inoo-kun. .” seru Yabu saat membuka pintu ruang Inoo.

“Haii. . Yabu-kun,  mengapa kau di sini?” tanya Inoo.

“Kau tak senang aku di sini, Inoo-kun?” Yabu balik nanya dengan mengerutkan dahinya.

“Bukan begitu. Kau harusnya menunggu Chinen-kun bukan?” tanya Inoo.

“Yaa. Tapi sudah ada yang menggantikannya,” kata Yabu.

“Mika-chan kah?” tanya Daiki.

“Iyup. Eh, ada Dai-kun rupanya!” seru Yabu sambil nyengir.

“Wah wah wah. . aku tak di anggap!” seru Daiki sambil geleng-geleng.

“Sudah ada kabar tentang Shida-chan kah?” tanya Inoo. Yabu menggeleng.

Tok. . Tok. . Tok. .

“Haii!!” seru Daiki bangkit dari duduknya lalu membuka pintu.

“Aa~ Fuma-kun. Ada apa?” tanya Daiki.

“Ada kabar soal Shida-neechan,” kata Fuma.

“Hontou desuka? Ayo masuk!” seru Daiki sambil menarik Fuma masuk.

“Sumimasen minna~” seru Fuma saat berada di dalam kamar Inoo.

“Ehhh. . . Fuma-kun! Sebuah kejutan kau datang kemari!” seru Inoo melebih-lebihkan.

“Hhh~ Oniichan!” seru Fuma sambil sedikit tertawa.

“Jadi kenapa kau kemari?” tanya Yabu.

“Oh ya, begini. Shida-neechan sudah selesai di operasi. Ia sekarang ada di kamar Hanari 8. Aku hanya akan memberitahukan ini saja,” kata Fuma.

“Hontouni? Aaa~ semuanya benar-benar membaik!” seru Daiki menjatuhkan dirinya ke sofa yang empuk.

“Arigatou ne, Fuma-kun!” kata Yabu.

“Douita, Oniichan!” seru Fuma sambil tersenyum.

“Ano~ Fuma-kun! Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Inoo.

“Nani?” tanya Fuma.

“Racun itu. Bagaimana dengan racunnya? Apa benar seberbahaya itu?” tanya Inoo.

“Ah racunnya! Begitulah. Cukup berbahaya untuk kesehatan manusia. Dokter bilang, beruntung Shida-neechan masih bisa bertahan dengan efek-efek racun tersebut. Biasanya, orang-orang yang terkena racun itu tidak bisa menahan efek-efeknya. Sehingga mengakibatkan mereka terbunuh lebih cepat dari batas waktunya,” jelas Fuma.

“Sudahlah! Setidaknya kekhawatiran kita berkurang! Nee~ Fuma-kun! Aku inget melihat Shida-chan sebentar,” kata Daiki seraya bangkit dari duduknya.

“Ayo. Sumimasen~” kata Fuma sedikit membungkuk lalu pergi. Daiki sendiri mengekor di belakang Fuma.

“Kau tau,Yabu-kun. Aku merasa, masih banyak rintangan yang akan kita hadapi. Sehingga tidak hanya sampai di sini kesakitan yang kita rasakan,” kata Inoo saat Fuma dan Daiki keluar dari ruangan.

“Benarkah? Mungkin itu hanya perasaanmu saja. . .” kata Yabu sedikit menghibur.

“Ya. Semoga. . .” lirih Inoo.

Mereka tidak menyadari ada orang mencurigakan yang mendengar percakapan mereka. Orang itu hanya tersenyum licik saat mendengar percakapan Inoo dan Yabu. Lalu pergi setelah perckapan Inoo dan Yabu selesai.

“Yeah. Permainan baru saja di mulai. .”

 Bersambung….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: