just for fun ^^

(kalau boleh jujur, ini bukan bikinan aku! melainkan temanku ^^)

Tittle                        : Hard to Say I’m Sorry

Chapter tittle        : The Missing of Character from Yamada  *chap.4

Cast                          : Yamada Ryosuke, Morimoto Ryutaro, Yabu Kouta, Shida Mirai, Minami Oku dll.

Rating                     : All age! ^^

Genre                      : Friendship, Family, Drama, Crack/Comedy

.

.

.

“Bagus! Mari kita teriakkan nama kelompok kita! Satu! Dua! Tiga!” kata Yabu.

“HEY!SAY!JUMP!” seru mereka bersama-sama sambil melompat tinggi sekali.

“Huaaa!! Ini semua membuatku lelah! Kembali ke kamar yuk!” ajak Inoo. Yang lain pun mengangguk setuju. Mereka pun pergi ke kamar.

***

@Di perjalanan

“Sumimasen!” seru seorang anak perempuan sambil membawa setumpuk buku.

“Hey! Hati-hati! Kau membawa buku sangat banyak!” seru Chinen.

“Hai, Chinen-kun!” seru anak tadi sambil pergi ke perpustakaan.

“Siapa tadi?” tanya Yamada.

“Entahlah, suaranya tidak terlalu jelas, mukanya terhalang tumpukkan buku. Jadi aku tidak bisa menebak siapa dia.” Kata Chinen.

Sepertinya aku pernah mendengar suara tadi. Di mana ya? Tanya Yamada pada dirinya sendiri.

“Ada apa, Yama-kun? Sepertinya kau sedang mengingat sesuatu?” tanya Ryu.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Yamada singkat.

“Hey, Ryu-kun! Aku masih tidak mengerti dengan Yama-kun! Kau bisa menceritakan lebih banyak lagi?” tanya Yabu sambil berbisik. Ryu mengangguk, lalu berlari menyusul Yamada yang sudah jauh.

***

@Lantai 2 , Ruang F

“Huaaahhh! Aku ke kamar duluan ya! Daiki-kun, mau ke kamar sekarang?” tanya Inoo.

“Ya, tapi aku mau ngambi minuman dulu. Duluan saja!” seru Daiki sambil berjalan ke arah lemari pendingin lalu langsung masuk kamar.

“Kalian bagaimana?” tanya Ryu.

“Kami di luar saja dulu. Kami ingin nonton tv dulu.” Jawab Chinen.

“Aku ke kamar saja.” Kata Yamada sambil berjalan masuk ke kamarnya.

“Yama-kun! Tunggu! Aku juga ke kamar saja. Jyanne!” seru Ryu berlari menyusul Yamada yang sudah berada di kamar.

“Waahh! Yama-kun itu dingin sekali ya!” kata Chinen.

“Menurut Ryu-kun, itu bukanlah sifat asliya.” Kata Yabu.

“Lalu? Sifat aslinya seperti apa?” tanya Chinen bingung.

“Entahlah. Yang aku yakin darinya, dia orang yang baik dan mudah berteman.” Kata Yabu.

“Bagaimana jika kita membantu untuk mengembalikan sifat yang hilang itu?” tanya Chinen.

“Ide bagus! Tapi bagaimana caranya?” tanya Yabu.

“Entahlah. Akan ku pikirkan nanti.” Kata Chinen sambil mencari-cari film yang bagus untuk di tontonnya.

@Kamar F3  *Ryu dan Yamada*

“Ryu-kun, boleh aku bertanya?” tanya Yamada sambil menaruh manga-nya di meja belajarnya, lalu memutar kursinya ke arah Ryu yang sedang duduk santai sambil membaca buku di tempat tidur.

“Mengenai hal apa?” tanya Ryu menurunkan bukunya agar dia dapat melihat Yamada.

“Apa menurutmu mereka orang-orang yang baik?” tanya Yamada ramah. Yamada sudah tak sedingin tadi.

“Menurutku mereka baik sekali. Aku senang berteman dengan mereka!” seru Ryu.

“Apa menurutmu mereka orang yang bisa di percaya?” tanya Yamada. Ryu sudah tau arah pembicaraan mereka. Ryu pun tersenyum.

“Ya! Kenapa? Apa kau sudah tak tahan untuk berdingin-dingin ria dengan mereka? Coba saja untuk lebih terbuka dengan mereka. Bukan kah tak enak terus berperan menjadi orang yang dingin?” jelas Ryu.

“Begitulah. Aku sependapat denganmu kalau mereka itu baik dan ramah. Hanya saja aku tak cukup yakin mereka benar-benar dapat di percaya.” Jelas Yamada.

“Huh! Kau ini gengsi ya untuk berbicara panjang lebar dengan mereka?” seru Ryu sambil membaca buku pelajarannya kembali.

“Entahlah! Aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu bahwa mereka itu dapat di percaya. Ngomong-ngomong, sedang membaca apa, Ryu-kun?” tanya Yamada.

“Buku Matematika! Aku mempunyai pikiran kalau besok kita akan belajar matematika!” seru Ryu.

“Benarkah? Ahh, tawatlah riwayatku!” seru Yamada melemas.

“Hahahahha… Ternyata kau masih merasa sulit dengan matematika, Yama-kun!” seru Ryu.

“Ugh! Matematika itu sangat menyulitkan dan membingungkan! Tapi, aku tidak ingin nilaiku berada di paling bawa nanti. Kau ajari aku ya, Ryu-kun!” seru Yamada sambil mendekat ke Ryu.

“Boleh saja! Tapi, sepertinya kurang lengkap pembahasannya. Bagaimana jika kita ke Perpustakaan atau tidak bertanya pada yang lain?” usul Ryu.

“Ide bagus! Tapi, kau saja yang ke Perputakaan. Aku di sini saja menanyakan ke yang lain. Kau kan tau sendiri, aku paling susah untuk membaca buku pelajaran, lebih tepatnya matematika.” Seru Yamada.

“Kau yakin? Katanya kau gensi terhadap mereka!” kata Ryu.

“Lebih baik bertanya dengan mereka di bandingkan mencari buku dan membacanya di tempat yang sangat banyak sekali buku-buku!” seru Yamada sambil berjalan keluar.

“Hey! Mau kemana, Yama-kun?” tanya Ryu.

“Tentu saja bertanya! Kau ini bagaimana sih! Kau juga seharusnya cepat pergi ke Perpustakaan!” seru Yamada sambil menunggu Ryu.

“Wakata! Ini! Kau harus membawa buku untuk menanyakannya!” seru Ryu sambil menyerahkan bukunya.

“Sip!” seru Yamada sambil merangkul Ryu. Mereka pun tertawa.

Yamada pun melepaskan rangkulannya, lalu mereka berjalan bersama keluar kamar.

@Ruang F

“Hiks… Hiks… Huaaaaa!!!” tangis Chinen. Yabu pun sedang memukul-mukul pelan pundaknya.

“Kau ini! Jangan menangis! Malu tau!” seru Yabu.

“Tapi, , , , HUAA!!” tangis Chinen sambil berteriak, segera Yabu menuntup telinganya.

Yamada dan Ryu yang baru keluar dari kamar mereka, terheran-heran melihat Chinen menangis. Mereka pun menutup telinga mereka karena teriakkan Chinen yang keras sekali.

“Aduhhh, Chinen-kun! Kenapa kau menangis?” tanya Ryu yang langsung mebuat Yabu melotot ke arahnya.

“Karena…. HUAAAA!!!” Inoo kembali berteriak. Ryu, Yabu, dan Yamada segera menutup telinga mereka.

“RYU-KUN! BAKAAA!!” seru Yabu dan Yamada. Karena Yamada berdiri dekat Ryu, Ryu segera di hujani pukulan-pukulan dari Yamada.

“Huaa! Maaf maaf!” seru Ryu yang kesakitan karena pukulan Yamada.

“Sudah sudah! Kalian jangan bertengkar terus, Yama-kun, Ryu-kun! Kau juga berhentilah menangis, Chinen-kun!!” seru Yabu yang sudah pusing melihat keributa Yamada dan Ryu + tangisan dan terikkan Chinen.

“Ya dehh.. Yabu-kun! Aku izin ke Perpustakaan ya!” seru Ryu.

“Dengan Yama-kun?” tanya Yabu.

“Tidak, sendirian saja! Bolehkan?” taya Ryu memelas.

“Tentu saja! Jangan lama-lama ya! Jam setengah 3 kau harus sudah di sini.” Kata Yabu tersenyum. Ryu nyengir sambil mengacungkan jempol.

“Good luck!” bisik Ryu ke Yamada.

“Yayaya! Sudah sana! Cepat pergi!” seru Yamada sambil mendorong Ryu.

“Sabar napa!” seru Ryu lalu pergi.

“Ikut duduk ya!” seru Yamada sambil duduk di kursi sebelah Yabu.

“Enn, Yabu-kun! Sebenarnya apa yang terjadi pada Chinen-kun?” tanya Yamada sambil berbisik. Yamada takut Chinen mendengar dan mulai menangis dan berteriak lagi.

“Tadi dia sedang mengganti-ganti channel untuk mencari film, lalu dia berhenti saat film Naruto mulai. Nah, di sana anak yang berambut merah, siapa namanya? Aku lupa! Pokonya dia meninggal. Lalu, Chinen-kun menangis saat itu juga!” jelas Yabu.

“Ohh! Anak berambut merah? Gara maksudmu? Ahh yayaya! Jadi Chinen-kun menangis gara-gara Gara meninggal?” kata Yamada, dia lupa untuk berbisik, segera Yabu menutup mulut Yamada hingga Yamada kesusahan untuk bernafas. Mereka melihat ke arah Chinen. Mata Chinen mulai berkaca-kaca.

“Ya! Gara meninggal! Padahal dia itu hebat + keren! Tapi kenapa harus dia yang meninggal??” tanya Chinen tidak menerimanya.

“Lalu, siapa yang harus meninggal, Chinen-kun?” tanya Yamada setelah mulutnya tidak di tutup lagi oleh Yabu.

“Kenapa tidak Naruto-nya saja!” seru Chinen kesal. Yamada geleng-geleng kepala.

“Jika Naruto yang meninggal, tentu saja filmnya langsung selesai dan akhirnya itu gantung sekali!” seru Yamada.

“Iya juga ya, aku penasaran lanjutannya bagaimana.” Kata Chinen sambil membayangkannya.

“Tapi, kau tidak bisa menonton besok!” seru Yabu.

“Loh, kenapaa??” tanya Chinen kaget.

“Ingat, besok kau akan menerima pelajaran tambahan!” seru Yabu.

“Oh ya! Aku lupa! Huh! Pupus sudah harapanku!” seru Chinen sambil mengelap mukanya.

“Jangan khawatir! Aku punya manga-nya dari awal sampai akhir! Ada di kamarku, jika kau mau meminjamnya silahkan saja!” seru Yamada santai dengan senyum merekah di wajahnya. Chinen dan Yabu kaget dengan berbeda alasan.

“Benarkah? Aku boleh meminjamnya? Asik sekali! Ohhh! Arigatou, Yama-kun!” seru Chinen senang. Yamada tersenyum senang melihat Inoo senang.

“Tapi, bukankah itu barang kesayanganmu? Katanya  barang-barang milikmu tidak pernah kau perbolehkan orang lain meminjam atau pun memakainya. Kenapa sekarang boleh?” tanya Yabu, ia lupa kalau dia telah berjanji pada Ryu bahwa ini rahasia.

“Hmm… Ryu-kun yang memberi tahumu ya?” tanya Yamada tersenyum lalu menyenderkan tubuhnya ke kursi.

“Ya ampun! Aku keceplosan! Bagaimana ini? Kau… Kau jangan salahkan Ryu-kun! Salahkan saja aku! Ku mohon!” seru Yabu sambil memasang wajah memelas. Yamada tertawa melihat mimik muka Yabu.

“Hahahhaha… Tenang saja! Aku takkan marah pada kalian berdua! Soal yang tadi, gak ada salahnya kan meminjamkan sesuatu pada teman? Anggap saja ini sebuah perkenalan dariku!” seru Yamada, dia sudah tidak gengsi lagi untuk menunjukkan sifat aslinya.

“Wah, kau baik sekali! Baiklah! Nanti kalau aku mau pinjam, aku akan bicara padamu!” seru Chinen sambil mengacungkan jempol.

“Emmm, aku ke kamar dulu ya!” seru Yamada girang lalu pergi ke kamarnya.

“Apa ini sifat aslinya? Wahhh… Baik sekali dia!” seru Yabu.

“Ya! Kita tanyakan saja nanti ke Ryu-kun!” seru Chinen

Bersambung…

Tambahan :

widihh judul chapter ini acak kadut yak!😄

wuihihihi saya memang tak jago bahasa inggris! tapi mudah-mudahan kalian mengerti apa yang aku maksud ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: