just for fun ^^

Tittle                        : Hard to Say I’m Sorry

Chapter tittle        : YamaChi Get Into Hole! InooShi Take Care at Hospital *chap.13

Cast                          : Yamada Ryosuke, Morimoto Ryutaro, Yabu Kouta, Shida Mirai, Minami Oku dll.

Rating                     : All age! ^^

Genre                      : Friendship, Family, Drama, Crack/Comedy

.

.

.

Ahahaha. . . Iya iya! Kalau begitu kita sekarang ke mana? Mau menyusun di mana?” tanya Shida.

“Di ruangan ku saja! Mau?” tanya Daiki. Shida langsung melotot.

“HE??!! APA KAMU BILANG?!” seru Shida berapi-api. Daiki terkejut.

“Eh? Etto~ Gomen ne!! Maksudku, antar aku ke ruanganku dulu saja! Semua data tentang jadwal yang ku buat ada di sana. Ya itu maksudku! Ehehe. .” kata Daiki cengengesan. Shida pun kembali seperti biasa.

“Apa katamu lah!” kata Shida berjalan menuju Asrama Putra. Daiki pun menghela nafas lega, lalu berjalan menyamai langkahnya dengan Shida.

***

Kembali seperti  saat Shida bersama Ryu, ada 2 orang yang sama sedang memperhatikan Shida dengan Daiki. Memata-matai mereka terus. Saat Shida dan Daiki berjalan menuju Asrama Putra mereka berdua berhenti memata-matai.

Mereka tenggelam di pikiran masing-masing. Lagi pula, mereka berbeda maksud dalam memata-matai Shida dan Daiki. Orang 1 memasang wajah cuek dengan tatapan tajam. Lalu berjalan sedikit demi sedikit menuju ke Asrama Putra. Orang 2 malah berjalan santai dengan muka dihiasi senyuman licik. Orang 1 menjadi was-was. Dia merasa ada yang janggal saat ini. Saat melihat ke belakang, dia terkejut melihat orang 2.

***

@Ruang Musik

“Hhhh~ Apa Mika-chan memang tidak akan ke sini?” tanya Chinen kepada dirinya sendiri. Sudah lebih dari 1 jam dia menunggu di ruang musik.

“Lagi pula tadi aku melihat Mika-chan pergi dengan laki-laki brengsek itu!” seru Chinen mengepalkan tangannya, lalu menonjok tembok dengan sekuat tenaga.

“CHI-CHAN!!! KAU MASIH DI RUANG MUSIK?!!!” teriak seseorang dari luar ruang musik. Cukup keras sehingga suaranya terdengar sedikit dari ruang musik yang kedap suarah.

“Siapa itu? Mika-chan kah?” Chinen bertanya-tanya. Perlahan dia membuka pintu ruang musik. Saat melihat keluar dia sangat terkejut.

“Chi-chan! Tolong aku!” seru orang yang tadi teriak. Dia sedang di todong oleh pisau dengan orang berpakaian serba hitam juga mukanya yang ditutupi kain hitam. Muka orang yang tadi teriak di penuhi keringat dan ada sedikit goresan pisau di pipinya.

“MIKA-CHAN!” seru Chinen kaget.

***

@sementara itu. . .

“Rupanya kau juga ada di sini, Yuma-kun!” seru Yamada. Raut mukanya terlihat ia sedikit kaget. Yuma tersenyum licik.

“Ya. Kau kaget?” tanya Yuma.

“Apa mau mu?!” seru Yamada semakin memperketat tingkat waspadanya.

“Hh~ kau membawa dirimu dalam bahaya, sobat!” seru Yuma tetap tersenyum licik dan berdiri santai.

“Apa maksudmu?!” seru Yamada dengan sinis dan tatapan mata yang berapi-api.

“Kau akan kehilangan satu persatu sahabat mu itu!” seru Yuma.

“Apa kau bilang?! Kau tak usah banyak omong!!” seru Yamada sambil berlari ke arah Yuma untuk menonjoknya. Tapi ditengah jalan dia di halangi oleh 2 orang berpakaian serba hitam juga mukanya tertutup kain hitam. Hingga yang dapat dilihat hanya matanya saja.

“Si. . Siapa kalian?” seru Yamada.

“Nanti juga kau tau!” kata Yuma sambil menepuk tangannya 1 kali. 2 orang tadi segera mendekati Yamada. Karena tak ingin tertangkap begitu saja, Yamada mencoba melawan. 2 orang tadi dapat mengelak serang Yamada. Hanya sial bagi Yamada, dia tidak bisa mengelak sebuah tonjokkan dari satu orang tadi.

“ARGH!” erang Yamada sambil berjongkok dan memegang perutnya. Belum sempat ia berdiri, Yamada langsung di pukul tengkuknya hingga membuat ia pingsan. Sebelum Yamada pingsan, ia sempat melihat dan mendengar sesuatu.

“Kerja bagus, sobatku! Aku harap Mika-chan bisa melaksanakannya juga dengan baik. .” seru Yuma sambil tersenyum.

***

@depan ruang musik. . .

“Lepaskan Mika-chan!!!” seru Chinen berapi-api sambil mendorong keras orang serba hitam yang berdiri sambil menodong pisau di depan Mika yang sudah kelelahan. Orang itu pun terjatuh.

“Mika-chan? Daijobou ne?” tanya Chinen.

“Atashi. . . Daijobou ne!” seru Mika tersenyum. Pandangannya yang kelelahan berubah seketika seperti monster, lalu segera memukul Chinen sampai terbanting ke lantai.

“Arghh. . .” erang Chinen. Ia merasa tulang punggungnya remuk. Kenapa kekuatan Mika-chan sebesar ini? Tanya Chinen dalam hati.

“Ayo bangun! Apa kekuatanmu hanya segini?!” seru Mika keras, sambil menendang perut Chinen.

“Uhuk. . Uhuk. .” Chinen terbatuk-batuk. Keringat sudah membasahi kepalanya karena menahan sakit yang amat sangat.

“Hey kau! Bantu aku!” seru Mika ke orang serba hitam tadi. Sambil membawa pisau orang serba hitam tadi mendekati Mika.

“Ayo cepat bereskan dia! Sebelum ada orang yang datang!” seru Mika. Orang serba hitam tadi mengangguk, lalu mencengkram kerah baju Chinen. Orang itu terus menghujani Chinen tonjokkan-tonjokkan keras. Chinen tidak dapat mengelak, tubuhnya terasa sangat lemas. Bahkan untuk mengangkat tangannya saja sangat susah, apa lagi melawan. Chinen pun pasrah saja. Sama seperti Yamada, Chinen pun dipukul tengkuknya hingga ia jatuh pingsan.

***

Tanpa mereka sadari, dari tadi ada yang memperhatikan mereka dari belokan menuju kelas 2-6 juga ruang musik. Hanya 1 orang, tapi cukup membahayakan.

“Chi-chan. . . .” kata orang itu lirih. Tanpa ia sadari setetes demi stetes air mata jatuh dan membasahi pipinya.

“Hey kau! Apa yang kau lakukan di sini!” seru seseorang dari belakangnya.

“Ah! Yuto-sensei! Aku hanya kebetulan lewat. .” kata orang itu.

“Ya sudah! Hati-hati ya! Sensei mau ke ruang musik sebentar. .” kata Yuto sensei.

“Eh? Nani?” tanya orang itu kaget.

“Ada apa? Sensei hanya ingin ke ruang musik saja. .” kata Yuto sensei.

“Demo, sensei. . .” kata orang itu sambil menundukkan kepalanya.

“Nan desuka, Mika-san? Atau sensei harus bilang Kawashima Umika?” tanya Yuto sensei yang kontan membuat orang itu tersentak kaget.

***

@sementara itu. . .

“Aduh. . .” keluh Shida. Jalannya menjadi sempoyongan. Sebelum ia benar-benar jatuh ke lantai, Daiki dengan sigap memegang tangannya.

“Nan desuka, Shida-chan? Apa kau sakit?” tanya Daiki. Shida kembali berdiri dengan dibantu oleh Daiki. Shida terus memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.

“Shida-chan! Daijobou?” tanya Daiki lagi.

“Daijobou, Dai-kun!” lirih Shida. Daiki melihat kearah kiri. Sebelah kirinya adalah pintu masuk kantin.

“Tunggu di sini!” seru Daiki sambil pergi meninggalkan Shida.

Setelah ditinggal oleh Daiki, Shida menyenderkan kepalanya ke tembok di sebelah kanannya. Keringat mengucur dari jidatnya. Lehernya juga dibasahi dengan keringat.

“Ada apa dengan ku?! Mengapa sakit sekali?!” lirih Shida. Ia jatuh terduduk dengan kepala masih tersender di tembok. Shida memejamkan matanya agar sakitnya hilang.

***

@Ruang F

“Hey! Aku sudah selesai! Bisa bantu aku keluar?” teriak Inoo dari dalam kamarnya. Yabu dan Ryu segera bangkit lalu pergi ke kamar Inoo. Lalu mereka kembali lagi bersama Inoo.

“Ayo berbaring. . Kau mau ke rumah sakit sekarang?” tanya Yabu.

“Iie, tunggu yang lain saja dulu. .” kata Inoo santai.

“Demo, kakimu?” tanya Manami khawatir. Inoo melirik Manami.

“Tak usah cemas. . . Aku tak apa. .” kata Inoo.

“Di mana Chinen-kun, Yama-kun, dan Daiki-kun ya?” tanya Ryu khawatir sambil uring-uringan.

***

@sementara itu. . . .

“SHIDA-CHAN!!” teriak Daiki melihat Shida yang terduduk lemas dengan mata tertutup dan kepala yang tersender di tembok. Daiki segera menghampiri Shida sambil membawa sebotol air putih.

“Shida-chan!! Shida-chan!!” seru Daiki sambil mengguncang-guncang tubuh Shida. Perlahan Shida membuka matanya.

“Aku baik-baik saja, Dai-kun. .” katanya lemah sambil tersenyum. Daiki semakin khawatir.

“Ini. . Ayo minum!” kata Daiki sambil memberikan botol minum ke Shida. Shida pun meminumnya. Daiki melihat ke kanan-kiri-depan dan belakang. Lalu melihat lagi ke arah Shida.

“Ke ruanganku dulu ya! Kalau tidak salah di sana ada obat. Ayo!” kata Daiki sambil mengambil kembali botol minum dan menggendong belakang Shida. Lalu Daiki setengah berlari menuju ruangannya.

“Gomen ne, Dai-kun!” kata Shida pelan.

“Jangan banyak bicara!” kata Daiki. Shida tersenyum. Pandangan Shida semakin kabur dan akhirnya jatuh pingsan.

“Eh? Shida-chan? Daijobou ne?!” tanya Daiki. Karena tak ada jawaban, Daiki semakin mempercepat larinya.

***

@Suatu ruangan. . .

“Hh~ kita apakan mereka?” tanya seseorang yang memakai seragam Hikari putri.

“Apakan lagi selain mengurung mereka di sini?” kata seseorang lagi yang memakai seragam Hikari juga. Tetapi, seragam pria.

“Tak ku sangka dia akan cepat percaya dengan penyamaranku ini! Bahkan dia percaya bahwa aku perempuan!” kata orang yang pakai seragam putri sambil mengupas kulit wajahnya yang ternyata hanya topeng saja. Setelah itu dia memakai kacamata dengan frame berwarna  merah dihiasi warna hitam dan lensa putih.

“Hhmm. . Kau memang hebat, Wakaba-kun! Wakaba Katsumi!” kata orang yang memakai seragam laki-laki dengan senyum menyeringai.

“Tentu saja! Tapi ini juga berkat bantuanmu! Oh ya, mana seragamku? Tak enak rasanya memakai seragam perempuan!” kata Wakaba tersenyum licik. Orang yang memakai seragam laki-laki memberinya plastik berisi seragam laki-laki. Wakaba segera mengambil plastik itu lalu pergi ke pojok ruangan. Tetapi baru di tengah perjalanan tiba-tiba saja. . . .

“Mengapa kau mau melakukan ini?” tanya orang seragam laki-laki yang sontak membuat Wakaba berhenti berjalan. Tanpa memutar badan Wakaba menjawab sambil tersenyum.

“Mengapa? Tentu saja untuk membalas dendam! Kau sudah tau itu bukan, Yuma-kun?!” seru Wakaba.

“Baiklah. .” kata Yuma tersenyum.

“Hhh~” Wakaba pun kembali berjalan.

“Kalian sudah pucat rupanya. . .” kata Yuma sambil meratapi 2 orang yang memakai seragam Hikari laki-laki yang tangan dan kakinya di ikat di kursi, juga mulut yang di tutup oleh lakban hitam.

“Bagaimana Yuma-kun? Apa kita biarkan saja 2 orang ini?” tanya Wakaba yan sudah kembali dan berganti baju.

“Biarkan mereka seperti ini! Lama-lama mereka akan kehabisan nafas dan mati!” seru Yuma.

“Mana mungkin! Di sini kan ada. . . . . .” kata Wakaba terputus lalu menegok ke arah Yuma.

“Jangan-jangan kau. .” kata Wakaba.

“Yup! Apa yang ada dipikiranmu benar!” kata Yuma. Wakaba lalu menyalakan laptopnya. Lalau membuka file datanya yang tertulis :

DAFTAR TARGET KEMATIAN

Hikari’s Killer

  1. Inoo Kei = CLEAR (tertusuk pisau di bagian paha kanan)
  2. Yamada Ryosuke = CLEAR (disandra di gudang)
  3. Chinen Yuri = CLEAR (disandra di gudang)
  4. Arioka Daiki = proses
  5. Yabu Kouta = proses
  6. Morimoto Ryutaro = proses

“Ayo kita keluar! Bahaya jika ada yang melihat ini!” seru Wakaba sambil menutup lagi laptopnya.

“Jyanne~ Yamada Ryosuke and Chinen Yuri! Kalian sudah kupertemukan dengan Malaikat Pencabut Nyawa!” seru Yuma. Lalu ia keluar dari gudang bersama dengan Wakaba.

***

@di waktu yang bersamaan. . .

“Semoga pintunya terbuka!!” seru Daiki saat sampai di depan pintu ruangannya. Ia pun langsung memutar knop-nya.

“TERBUKA! Bagus!” seru Daiki langsung menghambur masuk.

“AKU PULANG! HEY!! CEPAT TOLONG!!” teriak Daiki.

“Apa sih Daiki-kun. . . .” kata Yabu langsung terpotong. Matanya membulat.

“Ayo cepat! Shida-chan pingsan!” seru Daiki.

“Ayo cepat masuk!” seru Yabu sambil membantu Daiki. Daiki pun masuk ke dalam.

“SHIDA-CHAN! Ada apa dengannya??!!” seru Manami histeris saat melihat Shida yan pingsan. Shida pun di baringkan di sofa.

“Dai-kun! Ada apa dengannya??” tanya Manami sambil berdiri di hadapan Daiki.

“Aku juga tak tau kenapa. Tadi dia tiba-tiba sakit kepala lalu jatuh pingsan!” jawab Daiki terduduk di lantai.

“Kau terlihat cape Daiki-kun! Ini minum dulu. .” kata Ryu sambil memberi Daiki segelas minum.

“Arigatou Ryu-kun!” kata Daiki langsung meminumnya.

“Shida-chan! Shida-chan!” seru Manami sambil mengguncang perlahan badan Shida.

“Kasih dia balsem! Mungkin dia akan sadar!” seru Inoo. Daiki melihat Inoo. Daiki terkaget-kaget saat melihat Inoo terbaring terus.

“Ada apa denganmu Inoo-kun?” tanya Daiki.

“Nanti saja aku jelaskan! Sekarang cepat beri dia balsem!” seru Inoo.

“Ahh~ di kotak P3K gak ada balsem! Bagaimana ini?” kata Ryu sambil membawa kotak P3K.

“Ambil balsem ku! Ada di kamar di meja belajar ku!” seru Inoo. Yabu lari untuk mengambil balsem. Tak lama Yabu kembali lagi dengan lengan memegang balsem lalu di berikan kepada Manami. Manami membuka tutup balsemnya lalu mendekatkan permukaan balsem ke hidung Shida.

“Ayolahh! Shida-chan!!” kata Manami cemas.

“Dia tak apa-apa!” kata Ryu menenangkan.

“Ano~ Inoo-kun! Ada apa denganmu? Mengapa engkau berbaring saja?” tanya Daiki. Inoo menghela nafas.

“Begini. . . .” kata Inoo menceritakan kejadian tadi. Mata Daiki terbelalak.

“Siapa yang telah melakukannya? Orang itu sangat keterlaluan! Lalu bagaimana lukamu?” tanya Daiki. Inoo tersenyum.

“Tak apa! Memang masih ngilu dan sakit. Demo, tak sesakit tadi.” Kata Inoo.

“Bagaimana denganmu Manami-chan? Apa kau juga parah?” tanya Daiki. Manami menggeleng.

“Iie. . Hanya sedikit lecet. .” kata Manami.

“Argh~” erang Shida pelan. Manami langsung memberika balsem kepada Ryu yang ada di dekatnya.

“Shida-chan, daijobou ne?” tanya Manami cemas.

“Kepalaku sakit sekali! Argh!” erang Shida.

“Kita harus membawanya ke Hikari’s Hospital! Begitu pula Inoo-kun! Ryu-kun, bantu aku memapah Inoo! Daiki-kun, kau gendong Shida-chan! Tak apa kan?” kata Yabu mendekati Inoo. Daiki dan Ryu mengangguk. Mereka pun segera ke tugasnya masing-masing.

“Ano~ Manami-chan, tolong kunci pintu ruangan ini ya! Ini kuncinya!” kata Yabu sambil memberikan kunci pada Manami. Manami mengangguk.

Setelah semua keluar dari ruangan, Manami segera mengunci pintu. Lalu ia berlari menyusul yang lain yang sudah jauh di depan. Manami heran, seperti ada yang janggal saat ini. Tapi ia tak tau apa itu.

***

@Gudang. . . (tempat Yama dan Chinen di sekap)

Yamada dan Chinen mulai sadar. Awalnya penglihatan mereka sedikit kabur. Lama-kelamaan penglihatan mereka mulai seperti biasa lagi. Mereka saling pandang. Terlihat mereka berkomunikasi lewat mata.

“Kenapa kau di sini?” tanya Chinen.

“Aku tak tau! Kau juga kenapa bisa ada di sini?” tanya Yamada.

“Aku pun tak tau! Yang aku ingat aku tadi dipukuli orang lalu aku tak tau lagi apa yang terjadi!” kata Chinen. Tiba-tiba ia teringat kejadian yang ia alami. Dan keluar bayangan Mika. Mika-chan! Batin Chinen.

“Aku pun sama! Tadi aku di keroyok dan sebelumnya aku berbincang dengan Yuma-kun!” kata Yamada. Chinen terbelalak.

1 jam telah berlalu. . . Mata Chinen kembali berat. Ia dari tadi menutup dan membuka mata terus. Mukanya mulai terlihat pucat. Nafasnya mulai tak beraturan. Ia mulai kekurangan oksigen. Yamada pun tak jauh beda dengan Chinen. Yamada mencoba menenangkan diri lalu menutup matanya sebentar. Setelah tenang dan keadaannya lumayan lebih baik dari tadi, Yamada mengamati ruangan ini.

Ini pasti di gudang! Batin Yamada. Lalu pandangannya berhenti pada jendela di situ. Jendelanya di tutup rapat-rapat dan di tutupi oleh kain berwarna hitam! Begitu pula fentilasinya! Celahnya di tutup kardus lalu di semuanya ditutupi kain hitam! Jika begini terus kita bisa kehabisan nafas! Lagipula ikatan tali ini kencang sekali! Pendarahan kami bisa berhenti! Ini bahaya! Batin Yamada sambil melihat ke arah Chinen. Chinen benar-benar sudah sekarat. Dengan susah payah Chinen berusaha melihat Yamada. Tatapan matanya sudah sayu.

“Aku sudah tak kuat lagi!” begitulah arti pandangan tersebut.

“Bersabarlah! Pasti akan ada bantuan kemari!” balas Yamada. Semoga! Batin Yamada.

***

@Hikari’s Hospital (diwaktu yang bersamaan)

Inoo dan Shida sedang di periksa di sebuah kamar di Hikari’s Hospital. Yabu, Ryu, Daiki dan Manami menunggu diluar. Tak lama keluarlah Imami sensei yang merupakan dokter di Hikari’s Hospital.

“Sensei! Bagaimana keadaan mereka?” tanya Manami cemas.

“Apa luka Inoo-kun sangat parah?” tanya Yabu.

“Bagaimana dengan Shida-chan? Mengapa kepalanya sakit terus?” tanya Daiki.

“Mereka bisa sembuhkan sensei?!” tanya Ryu. Imami sensei tersenyum tipis mendengar pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mereka.

“Untuk Inoo-san, lukanya sangat dalam. Untung tidak ada benda yang tertinggal di dalamnya. Dia harus beristirahat di sini selalu 1 bulan penuh! Dia harus di larang untuk berjalan apalagi berlari. Dia pun sedikit kekurangan darah. Kami perkirakan pada saat mendapat luka itu darahnya keluar sangat banyak! Syukurlah pertolongan pertama dengan menggunakan sapu tangan yang diikat sangat kencang itu membuat pendarahannya menjadi sedikit berhenti. .” Imami sensei menghela nafas sebentar, lalu ia melanjutkan.

“Hanya saja untuk Shida-san. Ia akan terus merasa sakit kepala yang amat sangat dan bisa pingsan tiap hari. Dia terkena racun yang cukup mematikan. Hanya dalam 1 bulan racun itu dapat merenggut nyawanya. Cukup sulit untuk mengeluarkannya. Hanya ada 1 cara yaitu dengan cara operasi kecil.” Jelas Imami sensei. Ryu,Yabu,Daiki dan Manami tersentak kaget.

“Demo, Sensei! Bukankah yang parah itu Inoo-kun? Kenapa Shida-chan yang mendapat perawatan besar?” tanya Yabu.

“Secara fisik memang Inoo-san lebih parah dari Shida-chan. . Tapi seperti yang Sensei bilang, Shida-san itu terkena racun yang sangat berbahaya.” Ucap Imami sensei.

“Lalu apa kita harus membawanya ke rumah sakit di kota sensei? Kata Sensei dia harus di operasi kecil kan? Untuk mengeluarkan racun di tubuhnya itu. .” kata Manami.

“Iie, sebenarnya alat untuk melakukan operasi kecil itu ada di sini. Hanya Sensei dan para murid yang bertugas belum siap untuk mengeluarkan racun itu. Lagipula kita tidak tau jenis racun tersebut bukan?” kata Imami sensei.

“Lalu bagaimana?” tanya Daiki.

“Tadi Sensei sudah menyuruh Fuma-san untuk pergi ke kota. Dia akan mencarikan dokter untuk menangani Shida-san. Kalian tenang saja! Nah itu Inoo-san sudah keluar. Dia akan di tempatkan di ruang Hanari 2. Kalian menjenguknya saja dahulu. Nanti Sensei kabari lagi perkembangan Shida-san.” Kata Imami sensei tersenyum.

“Ano~ Sensei! Apa sekarang Shida-chan sedang terbangun?” tanya Ryu. Imami sensei menggeleng.

“Iie. . Dia pingsan kembali saat kami periksa. Ayo! Sepertinya Inoo-san ingin bertemu dengan kalian!” ujar Imami sensei.

“Wakata. . Sayounara Sensei!” kata Ryu, Daiki, Yabu dan Manami sambil membungkuk lalu pergi ke ruang rawat Inoo. Sedangkan Imami sensei kembali masuk ke kamar permeriksaan untuk kembali mengamati Shida.

***

“Sumimasen!” seru Ryu, Daiki, Yabu dan Manami saat memasuki ruang rawat Inoo. Inoo menengok ke sumber suara. Mengetahui siapa yang datang Inoo tersenyum.

“Ayo masuk! Jangan sungkan-sungkan! Santai sajaa!” kata Inoo tertawa kecil.

“Hai! Lagak mu seperti seorang penguasa saja!” cibir Manami. Inoo kembali tertawa kecil.

“Sayang sekali! Kau tak boleh kembali selama 1 bulan penuh!” kata Yabu.

“Ya. . . Mau bagaimana lagi? Gara-gara tusukan pisau itu. .” kata Inoo sambil memandang Manami yang matanya mulai berkaca-kaca. Inoo tersenyum tipis.

“Kau mulai kembali menangis, Manami-chan. .” kata Inoo.

“Aku tidak menangis!” seru Manami sambil memeletkan lidahnya. Walau memang dalam hati iya menangis.

“Ahahha. . . Apa katamu saja!” seru Inoo.

“Well, karena Inoo-kun dirawat di sini, kamar kita jadi milikiku sendiri! Luas dehhh!!!” seru Daiki sambil menepuk-nepuk bagian paha kanan Inoo yang sakit itu.

“ITTE!!!” seru Inoo meringis sambil memasang wajah cemberut. Daiki sendiri langsung merasa tak enak, karena dihujani tatapan-tatapan sinis dari Manami, Yabu dan Ryu.

“Ehehe. . . Hontouni Gomennasai ne, Inoo-kun! Aku lupa kalau kakimu ini luka! Dan soal omonganku tadi aku hanya becanda ko! Ehehehe. . .” kata Daiki sambil cengengesan. Yang lain hanya geleng-geleng melihat tingkah temannya yang 1 itu.

“Ngomong-ngomong, di mana Yama-kun dan Chinen-kun? Aku tak melihatnya daritadi. .” kata Inoo. Yang lain menjadi tersadar akan hilangnya 2 orang anggota itu.

“Benar juga! Dari pulang sekolah sampai sekarang belum pulang juga!” kata Daiki.

“Ya! Pulang sekolah jam 2 dan sekarang jam setengah 5. Mereka sudah menghilang selama 2 setengah jam!” seru Yabu sedikit tersentak.

“He?? Selama itu? Tapi tunggu! Bisa saja mereka sekarang ada di kamar bukan?” kata Ryu. Manami menggidik. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan.

“Nan desuka?” tanya Ryu yang di sebelahnya.

“Aku pun tak tau! Hanya saja aku merasa sedikit takut. .” kata Manami lirih.

“Kembali soal Yama-kun dan Chinen-kun, sepertinya benar kata Ryu-kun. Yama-kun dan Chinen-kun pasti sudah ada di ka. . .” kata Yabu terpotong karena seseorang membuka pintu dengan nafas tersenggal-senggal dan langsung bilang. .

“MEREKA ADA DI GUDANG!!” teriak orang itu di tengah kecapeannya berlari ke Hikari’s Hospital dan menuju ruang rawat Inoo, Hanari 2.

***

@Gudang (tempat Yamada dan Chinen di sekap)

Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Yamada dan Chinen. Nafas mereka semakin berat. Warna kulit mereka semakin pucat. Darah mereka memang tidak berjalan secara lancar karena tali yang di ikat kuat pada bagian tangan dan kaki. Mata mereka mulai terlihat sayu. Warna merah segar yang mulai kehitaman masih terlihat di baju seragam putih mereka. Itu adalah darah segar yang keluar dari mulut mereka saat terkena pukulan di perut. Muka Chinen pun penuh dengan warna biru, terutama di pipi dan di dekat mata.

Di antara mereka berdua, Chinen-lah yang paling parah. Selain tulang punggung yang terasa sangat sakit dan sepertinya remuk, ia dari tadi sudah menunduk diam dengan nafas berat dan mata terpejam. Chinen sudah tak kuat lagi untuk membuka matanya. Berbeda dengan Yamada yang masih dapat melihat ke arah pintu dengan mata yang mulai kabur dengan harapan akan ada bantuan datang.

Sial! Pandanganku semakin kabur! Batin Yamada. Tepat saat dia hampir memejamkan mata. Pintu dengan keras terbuka paksa. Sepertinya habis di dobrak.

“YAMA-KUN! CHINEN-KUN!” teriak si pendobrak. Tidak sendirian, tapi bertiga.

“Itu di sana!” seru salah satunya. Mereka pun menghampiri Yamada dan Chinen.

Bersambung….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: