just for fun ^^

Tittle                        : Hard to Say I’m Sorry

Chapter tittle        : Yamada Have a Problem *chap.15

Cast                          : Yamada Ryosuke, Morimoto Ryutaro, Yabu Kouta, Shida Mirai, Minami Oku dll.

Rating                     : All age! ^^

Genre                      : Friendship, Family, Drama, Crack/Comedy

.

.

.

“Ya. Semoga. . .” lirih Inoo.

Mereka tidak menyadari ada orang mencurigakan yang mendengar percakapan mereka. Orang itu hanya tersenyum licik saat mendengar percakapan Inoo dan Yabu. Lalu pergi setelah perckapan Inoo dan Yabu selesai.

“Yeah. Permainan baru saja di mulai. .”

***

“Kau tak mau menceritakan masalahmu, Yama-kun?” tanya Ryu. Yamada diam saja.

“Ryu-kun, aku. . . aku. . .” kata Yamada sulit berbicara.

“Ada apa?! Kau baik-baik saja?” tanya Ryu cemas.

“Aku ingin bilang 1 kalimat itu! Tapi sangat sulit untuk berbicara! Argh! Ada apa dengan ku?!” keluh Yamada frustasi. Ryu tersenyum membuat keadaan menjadi tenang kembali.

“Kau harus tenang, Yama-kun. Aku akan menunggu sampai kau bisa mengatakan hal itu,” kata Ryu tersenyum.

“Iya. . .” lirih Yamada.

Deg. . . ada apa ini? Tanya Manami dalam hati. Wajahnya tiba-tiba saja memerah dan memanas.

“Eh? Kau kenapa, Mana-chan? Kau sakit?” tanya Ryu sambil memegang dahi Manami.

“Eh?” Manami sedikit terkejut. Cepat-cepat ia menjauh kan tangan Ryu.

“Aku tak apa! Aku permisi keluar! Mungkin saja ada perkembangan dengan Shida. .” seru Manami sambil membungkuk lalu berlari manjauhi ruangan.

“Ada apa dengannya?” tanya Ryu terpaku. Yamada hanya memperhatikan tingkah Manami dan Ryu secara bergantian. Tiba-tiba Yamada tersenyum.

“Hey! Ada apa ini?” tanya Ryu dengan wajah heran.

“Daijobou, Ryu-kun!” seru Yamada terkekeh.

“Kau menyembunyikan sesuatu Yama-kun?” tanya Ryu. Yamada hanya tersenyum.

***

Manami terus berlari sampai kamar mandi di Hikari’s Hospital. Ia segera melihat dirinya di depan cermin kamar mandi perempuan.

“Oh. . Ada apa denganku? Apa yang kulakukan?” tanya Manami pada dirinya sendiri. Lalu ia membasuh wajahnya dengan air.

“Detak jantung ku menjadi tak karuan tadi. Oh my!” seru Manami.

“Kau mengalami kesulitan?” tanya seseorang yang langsung mencuci tangannya di wastafel sebelah Manami.

“Eh?! Nani?!” tanya Manami sedikit terkejut.

“Nothing. Forget that!” kata orang itu.

“Eh? Baiklah. Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya,” tanya Manami heran.

“Me? Oh, watashi wa Haruna Kojima desu. Yoroshiku!” jawab Haruna sambil membungkuk.

“Ah~ watashi wa Manami Oku desu. Yoroshiku Haruna-chan!” kata Manami.

“Unn. Daijobou Manami-chan?” tanya Haruna.

“Eh? Daijobou. Memangnya aku terlihat aneh ya?” tanya Manami.

“Yahh. . . Aku mendengarmu berbicara tadi. Kelihatannya kau gelisah gimanaaa gitu,” kata Haruna.

“Entahlah. Aku merasa aneh saja. Belum pernah aku segugup ini,” kata Manami.

“Kau sedang jatuh cinta pada seseorang?” tebak Haruna.

“EH?! NANI?!” seru Manami dengan mata terbelalak, menengok ke arah Haruna.

“Jatuh cinta. Falling in love,” kata Haruna.

“Ah! Tak mungkin!” seru Manami sambil tertawa miris.

“Jangan bohongi dirimu sendiri!” seru Haruna tertawa.

“Ugh! Kau ini. Demo, kenapa wajahmu pucat?” tanya Manami.

“Eh? Um. . tidak apa-apa!” kata Haruna cepat.

“Kau sakit, Haruna-chan?” tanya Manami.

“Aku bilang aku tidak apa-apa! Sudahlah tak usah pedulikan aku! Permisi!” seru Haruna dingin. Haruna lalu meninggalkan Manami yang terngah terbingung-bingung.

***

“Oniichan, maaf aku harus pergi lagi. Sumimasen!” kata Fuma sambil membungkuk lalu keluar dari kamar Shida di Hikari’s Hospital.

“Aaa~ Shida-chan! Daijobouka?” tanya Daiki sambil mendekat ke arah Shida.

“Daijobou. Arigatou, Dai-kun!” kata Shida tersenyum.

“Eh? Douitamashite. . hehe. .” kata Daiki cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Idihh. . . Kau ketombean ya Dai-kun! Ahahahaa. . .” tawa Shida.

“Eitss. . . Mana mungkin orang secakep dan selucu diriku ini ketombean!” seru Daiki.

“Wah. . . Pede abis kau!” cibir Shida. Daiki tersenyum.

“Yah. . Syukurlah kau tak apa. Awalnya aku takut dengan kondisimu itu!” kata Daiki.

“Gomen ne~ aku telah menyusahkan kau dan yang lain,” kata Shida.

“Daijobou. . Kami mengerti keadaanmu ini,” kata Daiki tersenyum.

“Demo, dimana yang lain?” tanya Shida sambil melirik-lirik ke arah pintu.

“Inoo-kun, Yama-kun, dan Chinen-kun juga sedang di rawat. Sedangkan yang lain menunggu mereka,” jelas Daiki.

“Eh? Apa yang terjadi? Kenapa Inoo-kun, Yama-kun dan Chinen-kun juga di rawat?” tanya Shida kaget.

“Mereka di serang. Kau tau. . Pelakunya. . . .” kata Daiki terputus.

“Si. . Siapa?” tanya Shida.

“Yuma-kun. Tapi! Untuk masalah Inoo-kun dan kau belum pasti siapa,” kata Daiki.

“Benarkah? Sepertinya aku telah melewati banyak hal ya,” kata Shida tersenyum kecut.

“Sudahlah. . . Kami mengerti kondisimu ini! Istirahat saja,” kata Daiki.

“Demo. . . .” kata Shida terputus.

“Sudah sudah. . Ayo tidur! Ini bisa membantumu untuk memulihkan tenaga. Lagipula ini sudah jam 8 malam,” kata Daiki sambi memakaikan Shida selimut (?).

“Wakata. Arigatou, Dai-kun,” kata Shida lalu memejamkan matanya.

“Oyasuminasai, Shida-chan!” kata Daiki sambil terus memerhatikan Shida. Tak lama, Daiki pun tertidur di kursi yang ia duduki itu.

***

“Hey! Inoo-kun! Ayo tidur! Sudah malam!” seru Yabu.

“Haii! Cerewet kau!” seru Inoo sambil berbaring lalu memakai selimut.

“Ini juga demi kesehatanmu sendiri Inoo-kun! Aku akan tidur di sofa. Jadi kau tak usah takut merasa kesepian,” kata Yabu sambi nyengir.

“Ahahaha. Arigatou, Yabu-kun! Huaamm. . . Oyasuminasai!” seru Inoo lalu terlelap.

“Oyasumi. .” seru Yabu setelah berbaring di sofa. Ia pun ikut terlelap.

***

“Bagus! Sekarang aku tak tau mau kemana!” seru Manami sambil melihat jamnya.

“Ya ampun! Sudah malam! Pantas saja sepi! Aduhh. . Aku ke mana? Aah! Aku akan melihat-lihat ruangan tempat anak-anak di raawat saja!” seru Manami sambil berjalan menuju kamar Inoo. Karena ia berada di dekat ruangan tersebut.

“Sumimasen. . .” Manami membuka pintu dengan sangat hati-hati. Terihat Inoo dan Yabu yang tengah asyik dengan mimpinya masing-masing. Manami pun keluar dari kamar tersebut dengan perlahan. Ia lalu pergi ke ruangan Yamada. Walau ragu, tapi ia tetap pergi.

***

“Ayo tidur, Chi-chan!” seru Mika.

“Haii. Kau sendiri?” tanya Chinen.

“Jangan khawatirkan aku. Kau tidur saja duluan,” kata Mika.

“Wakata. Oyasuminasai!” kata Chinen. Mika mengangguk. Tak lama Chinen pun tertidur. Begitu pula Mika yang tertidur. Mika menempatkan kepalanya di tempat tidur Chinen. Tepatnya di samping tubuh Chinen.

***

“Semoga penghuni di kamar ini belum tidur!” doa Manami di depan pintu kamar Yamada. Manami menarik nafas panjang. Lalu ia membuka dan masuk.

“Sumimasen. . .” kata Manami pelan. Sepasang mata melihat ke arah Manami.

“Ah~ Mana-chan. Kau masih terjaga rupanya,” kata orang itu tersenyum.

“Unn, kau juga, Ryu-kun?” tanya Manami sambil berjalan berlahan. Lalu ia duduk di sofa.

“Haii. Kalau aku sudah tidur, aku takkan berbicara padamu saat ini!” kata Ryu sambil tertawa. Ia bangkit dari kursinya di sebelah tempat tidur Yamada.

“Eh? Yama-kun sudah tidur rupanya?” kata Manami membulatkan matanya.

“Ya. Selang beberapa menit saat kau keluar, ia langsung tertidur,” kata Ryu lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sebelah Manami.

“Ahahaha. . . Dasar Kebo!” seru Manami tertawa. Ryu hanya tersenyum.

“Kau lapar? Aku yakin dari tadi sore kau belum makan kan?” tanya Ryu.

“Eh? Tebakkanmu tepat sekali. Tapi aku tidak terlalu lapar!” kata Manami berbohong. Padahal perutnya sudah konser berbagai macam lagu dari tadi.

“Ahahaha. . . Sudahlah. Aku akan mencari makanan. Kau tunggu disini ya!” seru Ryu sambil menyentuh jidat Manami dengan telunjuknya. Lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu.

“Ugh! Aku bilangkan tak perlu!” seru Manami.

“Daijobou. Tunggu saja!” kata Ryu sambil membalikkan badannya dan tersenyum ke Manami. Lalu ia kembali berjalan ke pintu dan pergi.

“Anak itu! Tapi, baik juga dia!” kata Manami sambil tersenyum-senyum.

***

“Aa~ Ryu-niichan!” seru seseorang dari arah belakang Ryu. Ryu berhenti berjalan lalu membalikkan badan.

“Eh? Kau siapa?” tanya Ryu bingung. Orang tadi mendekat lalu berhenti tepat di samping Ryu.

“Kikuchi Fuma desu. Yoroshiku!” kata Fuma nyengir.

“Aa~ kau yang di suruh Imami-sensei itu kan? Kenapa kau memanggilku ‘Ryu-niichan’?” tanya Ryu.

“Kau 1 tingkat lebih tua dariku. Tentu saja aku harus memanggilmu ‘oniichan’,” kata Fuma.

“Sou desu ne,” kata Ryu mengangguk. Mereka berdua pun berjalan bersama.

“Kau mau kemana, Oniichan? Ini sudah malam,” kata Fuma sambil melihat jam tangannya.

“Aku tau. Oleh karena itu, perutku terus konser. Hehehe,” kata Ryu sambil menoleh ke arah Fuma terus nyengir.

“Ohahhaaha. Lapar maksudmu? Kalau begitu, ayo beli makan bersama. Kebetulan aku juga mau nyari makan!” kata Fuma sedikit tertawa.

“Sip. Tunjukkan tempat jual makanan yang enak yah!” kata Ryu sambil merangkul Fuma.

“Wakata! Kalau begitu kita ke kota saja,” kata Fuma mengacungkan jempol.

“Apa tidak terlalu jauh?” tanya Ryu.

“Iie. Dekat ko. Santai sajalah!” kata Fuma.

“Terserah dirimu saja lah. Tapi, ayo cepat!” kata Ryu berlari tetapi masih merangkul Fuma.

“Aduh. . . Oniichan, aku tercekik!” seru Fuma. Dia kelabakkan untuk berlari karena tercekik pula. Ryu sendiri hanya nyengir saja.

***

“Arghh. . .” rintih Yamada pelan. Ia terbangun dari tidurnya. Manami tengah melamun sedikit terkejut. Manami segera menghampiri Yamada.

“Yama-kun, daijobouka?” tanya Manami.

“Haii, daijobou,” kata Yamada mencoba untuk duduk. Manami membantu Yamada.

“Kenapa kau terbangun? Ayo tidur lagi! Kau harus banyak istirahat!” seru Manami.

“Hmp. . Kau ini sama seperti Ryu-kun yak!” kata Yamada tertawa kecil.

“Eh? Sama maksudmu?” tanya Manami heran.

“Kalian berdua selalu memperingati ini itu, menasehatiku ini itu. Ckckckck. . .” kata Yamada.

“Oh itu. Patutlah aku dan Ryu-kun seperti itu padamu. Kita ini kan sahabat. Lagipula kau jangan Ge-Er dulu! Memangnya kami seperti itu hanya padamu? Ke yang lain juga tauk!” protes Manami.

“Ahaha. . Iyaaaaaaaaaaa! Tapi, di mana Ryu-kun?” tanya Yamada.

“Dia sedang nyari makan. Kenapa?” tanya Manami.

“Oh begitu. Tidak apa. Hehehe. . .” kata Yamada. Manami hanya mengangguk-angguk.

“Anoo~ Manami-chan. Aku ingin bercerita padamu,” kata Yamada. Manami menengok ke arah Yamada. Ia sedikit heran lalu duduk di kursi sebelah tempat tidur Yamada.

“Nande?” tanya Manami.

“Sebelum itu. Bagaimana sifatku akhir-akhir ini ke Ryu-kun? “ tanya Yamada sedikit ragu. Manami bersedekap (?) sambil berfikir.

“Sifatmu? Wah. . kau berubah sekali! Kasihan Ryu-kun. Kau marahi setiap tingkahnya. Sampai-sampai kau dan Shida-chan bertengkar hanya karena masalah itu. Ryu-kun menjadi merasa bersalah karena itu. Kasihan dia! Akhir-akhir ini dia terlihat murung, tapi ia sembunyikan itu,” jelas Manami.

“Eh?! Hontou desuka?! Apa aku sejahat itu?!” tanya Yamada kaget.

“Hontouni! Yaaa. . . Di bilang jahat sepertinya agak berlebihan, tapi jika di bilang tidak jahat gak juga tuh! Jadi apa ya? Begitulah! Ada apa sih? Kenapa kau berubah? Ryu-kun selalu mengeluh, ‘Kenapa Yama-kun berubah pada ku? Apa salahku?’ . Aku sampai pusing sendiri mendengarnya!” seru Manami sedikit kesal.

“Karena sifatku yang berubah itu, kau jadi kena getahnya. Gomen ne, Manami-chan!” kata Yamada.

“Haii, daijobou. Tapi kenapa? Kau mau memberitahu alasanmu berubah? Tidak mungkin ini hanya iseng kan?” tanya Manami.

“Tentu tidak. Ada alasannya. Tapi aku tak ingin bercerita soal itu dahulu,” kata Yamada.

“Wakata. Tapi apa yang mau kau ceritakan?” tanya Manami heran.

“Begini. . Aku. . .” kata Yamada langsung terdiam.

“Kenapa? Kalau ngomong jangan setengah-setengah! Bikin orang penasaran tau!” seru Manami.

“Aku sulit untuk bilang kalimat itu pada Ryu-kun!” lirih Yamada.

“Heh?! Kalimat apa?” tanya Manami heran. Yamada menelan ludah.

“Aku minta maaf. . .” kata Yamada sangat pelan. Tapi, Manami masih bisa mendengarnya walau agak samar-samar.

“EH?! NANI?!!”

bersambung

“Ya. Semoga. . .” lirih Inoo.

Mereka tidak menyadari ada orang mencurigakan yang mendengar percakapan mereka. Orang itu hanya tersenyum licik saat mendengar percakapan Inoo dan Yabu. Lalu pergi setelah perckapan Inoo dan Yabu selesai.

“Yeah. Permainan baru saja di mulai. .”

***

“Kau tak mau menceritakan masalahmu, Yama-kun?” tanya Ryu. Yamada diam saja.

“Ryu-kun, aku. . . aku. . .” kata Yamada sulit berbicara.

“Ada apa?! Kau baik-baik saja?” tanya Ryu cemas.

“Aku ingin bilang 1 kalimat itu! Tapi sangat sulit untuk berbicara! Argh! Ada apa dengan ku?!” keluh Yamada frustasi. Ryu tersenyum membuat keadaan menjadi tenang kembali.

“Kau harus tenang, Yama-kun. Aku akan menunggu sampai kau bisa mengatakan hal itu,” kata Ryu tersenyum.

“Iya. . .” lirih Yamada.

Deg. . . ada apa ini? Tanya Manami dalam hati. Wajahnya tiba-tiba saja memerah dan memanas.

“Eh? Kau kenapa, Mana-chan? Kau sakit?” tanya Ryu sambil memegang dahi Manami.

“Eh?” Manami sedikit terkejut. Cepat-cepat ia menjauh kan tangan Ryu.

“Aku tak apa! Aku permisi keluar! Mungkin saja ada perkembangan dengan Shida. .” seru Manami sambil membungkuk lalu berlari manjauhi ruangan.

“Ada apa dengannya?” tanya Ryu terpaku. Yamada hanya memperhatikan tingkah Manami dan Ryu secara bergantian. Tiba-tiba Yamada tersenyum.

“Hey! Ada apa ini?” tanya Ryu dengan wajah heran.

“Daijobou, Ryu-kun!” seru Yamada terkekeh.

“Kau menyembunyikan sesuatu Yama-kun?” tanya Ryu. Yamada hanya tersenyum.

***

Manami terus berlari sampai kamar mandi di Hikari’s Hospital. Ia segera melihat dirinya di depan cermin kamar mandi perempuan.

“Oh. . Ada apa denganku? Apa yang kulakukan?” tanya Manami pada dirinya sendiri. Lalu ia membasuh wajahnya dengan air.

“Detak jantung ku menjadi tak karuan tadi. Oh my!” seru Manami.

“Kau mengalami kesulitan?” tanya seseorang yang langsung mencuci tangannya di wastafel sebelah Manami.

“Eh?! Nani?!” tanya Manami sedikit terkejut.

“Nothing. Forget that!” kata orang itu.

“Eh? Baiklah. Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya,” tanya Manami heran.

“Me? Oh, watashi wa Haruna Kojima desu. Yoroshiku!” jawab Haruna sambil membungkuk.

“Ah~ watashi wa Manami Oku desu. Yoroshiku Haruna-chan!” kata Manami.

“Unn. Daijobou Manami-chan?” tanya Haruna.

“Eh? Daijobou. Memangnya aku terlihat aneh ya?” tanya Manami.

“Yahh. . . Aku mendengarmu berbicara tadi. Kelihatannya kau gelisah gimanaaa gitu,” kata Haruna.

“Entahlah. Aku merasa aneh saja. Belum pernah aku segugup ini,” kata Manami.

“Kau sedang jatuh cinta pada seseorang?” tebak Haruna.

“EH?! NANI?!” seru Manami dengan mata terbelalak, menengok ke arah Haruna.

“Jatuh cinta. Falling in love,” kata Haruna.

“Ah! Tak mungkin!” seru Manami sambil tertawa miris.

“Jangan bohongi dirimu sendiri!” seru Haruna tertawa.

“Ugh! Kau ini. Demo, kenapa wajahmu pucat?” tanya Manami.

“Eh? Um. . tidak apa-apa!” kata Haruna cepat.

“Kau sakit, Haruna-chan?” tanya Manami.

“Aku bilang aku tidak apa-apa! Sudahlah tak usah pedulikan aku! Permisi!” seru Haruna dingin. Haruna lalu meninggalkan Manami yang terngah terbingung-bingung.

***

“Oniichan, maaf aku harus pergi lagi. Sumimasen!” kata Fuma sambil membungkuk lalu keluar dari kamar Shida di Hikari’s Hospital.

“Aaa~ Shida-chan! Daijobouka?” tanya Daiki sambil mendekat ke arah Shida.

“Daijobou. Arigatou, Dai-kun!” kata Shida tersenyum.

“Eh? Douitamashite. . hehe. .” kata Daiki cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Idihh. . . Kau ketombean ya Dai-kun! Ahahahaa. . .” tawa Shida.

“Eitss. . . Mana mungkin orang secakep dan selucu diriku ini ketombean!” seru Daiki.

“Wah. . . Pede abis kau!” cibir Shida. Daiki tersenyum.

“Yah. . Syukurlah kau tak apa. Awalnya aku takut dengan kondisimu itu!” kata Daiki.

“Gomen ne~ aku telah menyusahkan kau dan yang lain,” kata Shida.

“Daijobou. . Kami mengerti keadaanmu ini,” kata Daiki tersenyum.

“Demo, dimana yang lain?” tanya Shida sambil melirik-lirik ke arah pintu.

“Inoo-kun, Yama-kun, dan Chinen-kun juga sedang di rawat. Sedangkan yang lain menunggu mereka,” jelas Daiki.

“Eh? Apa yang terjadi? Kenapa Inoo-kun, Yama-kun dan Chinen-kun juga di rawat?” tanya Shida kaget.

“Mereka di serang. Kau tau. . Pelakunya. . . .” kata Daiki terputus.

“Si. . Siapa?” tanya Shida.

“Yuma-kun. Tapi! Untuk masalah Inoo-kun dan kau belum pasti siapa,” kata Daiki.

“Benarkah? Sepertinya aku telah melewati banyak hal ya,” kata Shida tersenyum kecut.

“Sudahlah. . . Kami mengerti kondisimu ini! Istirahat saja,” kata Daiki.

“Demo. . . .” kata Shida terputus.

“Sudah sudah. . Ayo tidur! Ini bisa membantumu untuk memulihkan tenaga. Lagipula ini sudah jam 8 malam,” kata Daiki sambi memakaikan Shida selimut (?).

“Wakata. Arigatou, Dai-kun,” kata Shida lalu memejamkan matanya.

“Oyasuminasai, Shida-chan!” kata Daiki sambil terus memerhatikan Shida. Tak lama, Daiki pun tertidur di kursi yang ia duduki itu.

***

“Hey! Inoo-kun! Ayo tidur! Sudah malam!” seru Yabu.

“Haii! Cerewet kau!” seru Inoo sambil berbaring lalu memakai selimut.

“Ini juga demi kesehatanmu sendiri Inoo-kun! Aku akan tidur di sofa. Jadi kau tak usah takut merasa kesepian,” kata Yabu sambi nyengir.

“Ahahaha. Arigatou, Yabu-kun! Huaamm. . . Oyasuminasai!” seru Inoo lalu terlelap.

“Oyasumi. .” seru Yabu setelah berbaring di sofa. Ia pun ikut terlelap.

***

“Bagus! Sekarang aku tak tau mau kemana!” seru Manami sambil melihat jamnya.

“Ya ampun! Sudah malam! Pantas saja sepi! Aduhh. . Aku ke mana? Aah! Aku akan melihat-lihat ruangan tempat anak-anak di raawat saja!” seru Manami sambil berjalan menuju kamar Inoo. Karena ia berada di dekat ruangan tersebut.

“Sumimasen. . .” Manami membuka pintu dengan sangat hati-hati. Terihat Inoo dan Yabu yang tengah asyik dengan mimpinya masing-masing. Manami pun keluar dari kamar tersebut dengan perlahan. Ia lalu pergi ke ruangan Yamada. Walau ragu, tapi ia tetap pergi.

***

“Ayo tidur, Chi-chan!” seru Mika.

“Haii. Kau sendiri?” tanya Chinen.

“Jangan khawatirkan aku. Kau tidur saja duluan,” kata Mika.

“Wakata. Oyasuminasai!” kata Chinen. Mika mengangguk. Tak lama Chinen pun tertidur. Begitu pula Mika yang tertidur. Mika menempatkan kepalanya di tempat tidur Chinen. Tepatnya di samping tubuh Chinen.

***

“Semoga penghuni di kamar ini belum tidur!” doa Manami di depan pintu kamar Yamada. Manami menarik nafas panjang. Lalu ia membuka dan masuk.

“Sumimasen. . .” kata Manami pelan. Sepasang mata melihat ke arah Manami.

“Ah~ Mana-chan. Kau masih terjaga rupanya,” kata orang itu tersenyum.

“Unn, kau juga, Ryu-kun?” tanya Manami sambil berjalan berlahan. Lalu ia duduk di sofa.

“Haii. Kalau aku sudah tidur, aku takkan berbicara padamu saat ini!” kata Ryu sambil tertawa. Ia bangkit dari kursinya di sebelah tempat tidur Yamada.

“Eh? Yama-kun sudah tidur rupanya?” kata Manami membulatkan matanya.

“Ya. Selang beberapa menit saat kau keluar, ia langsung tertidur,” kata Ryu lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sebelah Manami.

“Ahahaha. . . Dasar Kebo!” seru Manami tertawa. Ryu hanya tersenyum.

“Kau lapar? Aku yakin dari tadi sore kau belum makan kan?” tanya Ryu.

“Eh? Tebakkanmu tepat sekali. Tapi aku tidak terlalu lapar!” kata Manami berbohong. Padahal perutnya sudah konser berbagai macam lagu dari tadi.

“Ahahaha. . . Sudahlah. Aku akan mencari makanan. Kau tunggu disini ya!” seru Ryu sambil menyentuh jidat Manami dengan telunjuknya. Lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu.

“Ugh! Aku bilangkan tak perlu!” seru Manami.

“Daijobou. Tunggu saja!” kata Ryu sambil membalikkan badannya dan tersenyum ke Manami. Lalu ia kembali berjalan ke pintu dan pergi.

“Anak itu! Tapi, baik juga dia!” kata Manami sambil tersenyum-senyum.

***

“Aa~ Ryu-niichan!” seru seseorang dari arah belakang Ryu. Ryu berhenti berjalan lalu membalikkan badan.

“Eh? Kau siapa?” tanya Ryu bingung. Orang tadi mendekat lalu berhenti tepat di samping Ryu.

“Kikuchi Fuma desu. Yoroshiku!” kata Fuma nyengir.

“Aa~ kau yang di suruh Imami-sensei itu kan? Kenapa kau memanggilku ‘Ryu-niichan’?” tanya Ryu.

“Kau 1 tingkat lebih tua dariku. Tentu saja aku harus memanggilmu ‘oniichan’,” kata Fuma.

“Sou desu ne,” kata Ryu mengangguk. Mereka berdua pun berjalan bersama.

“Kau mau kemana, Oniichan? Ini sudah malam,” kata Fuma sambil melihat jam tangannya.

“Aku tau. Oleh karena itu, perutku terus konser. Hehehe,” kata Ryu sambil menoleh ke arah Fuma terus nyengir.

“Ohahhaaha. Lapar maksudmu? Kalau begitu, ayo beli makan bersama. Kebetulan aku juga mau nyari makan!” kata Fuma sedikit tertawa.

“Sip. Tunjukkan tempat jual makanan yang enak yah!” kata Ryu sambil merangkul Fuma.

“Wakata! Kalau begitu kita ke kota saja,” kata Fuma mengacungkan jempol.

“Apa tidak terlalu jauh?” tanya Ryu.

“Iie. Dekat ko. Santai sajalah!” kata Fuma.

“Terserah dirimu saja lah. Tapi, ayo cepat!” kata Ryu berlari tetapi masih merangkul Fuma.

“Aduh. . . Oniichan, aku tercekik!” seru Fuma. Dia kelabakkan untuk berlari karena tercekik pula. Ryu sendiri hanya nyengir saja.

***

“Arghh. . .” rintih Yamada pelan. Ia terbangun dari tidurnya. Manami tengah melamun sedikit terkejut. Manami segera menghampiri Yamada.

“Yama-kun, daijobouka?” tanya Manami.

“Haii, daijobou,” kata Yamada mencoba untuk duduk. Manami membantu Yamada.

“Kenapa kau terbangun? Ayo tidur lagi! Kau harus banyak istirahat!” seru Manami.

“Hmp. . Kau ini sama seperti Ryu-kun yak!” kata Yamada tertawa kecil.

“Eh? Sama maksudmu?” tanya Manami heran.

“Kalian berdua selalu memperingati ini itu, menasehatiku ini itu. Ckckckck. . .” kata Yamada.

“Oh itu. Patutlah aku dan Ryu-kun seperti itu padamu. Kita ini kan sahabat. Lagipula kau jangan Ge-Er dulu! Memangnya kami seperti itu hanya padamu? Ke yang lain juga tauk!” protes Manami.

“Ahaha. . Iyaaaaaaaaaaa! Tapi, di mana Ryu-kun?” tanya Yamada.

“Dia sedang nyari makan. Kenapa?” tanya Manami.

“Oh begitu. Tidak apa. Hehehe. . .” kata Yamada. Manami hanya mengangguk-angguk.

“Anoo~ Manami-chan. Aku ingin bercerita padamu,” kata Yamada. Manami menengok ke arah Yamada. Ia sedikit heran lalu duduk di kursi sebelah tempat tidur Yamada.

“Nande?” tanya Manami.

“Sebelum itu. Bagaimana sifatku akhir-akhir ini ke Ryu-kun? “ tanya Yamada sedikit ragu. Manami bersedekap (?) sambil berfikir.

“Sifatmu? Wah. . kau berubah sekali! Kasihan Ryu-kun. Kau marahi setiap tingkahnya. Sampai-sampai kau dan Shida-chan bertengkar hanya karena masalah itu. Ryu-kun menjadi merasa bersalah karena itu. Kasihan dia! Akhir-akhir ini dia terlihat murung, tapi ia sembunyikan itu,” jelas Manami.

“Eh?! Hontou desuka?! Apa aku sejahat itu?!” tanya Yamada kaget.

“Hontouni! Yaaa. . . Di bilang jahat sepertinya agak berlebihan, tapi jika di bilang tidak jahat gak juga tuh! Jadi apa ya? Begitulah! Ada apa sih? Kenapa kau berubah? Ryu-kun selalu mengeluh, ‘Kenapa Yama-kun berubah pada ku? Apa salahku?’ . Aku sampai pusing sendiri mendengarnya!” seru Manami sedikit kesal.

“Karena sifatku yang berubah itu, kau jadi kena getahnya. Gomen ne, Manami-chan!” kata Yamada.

“Haii, daijobou. Tapi kenapa? Kau mau memberitahu alasanmu berubah? Tidak mungkin ini hanya iseng kan?” tanya Manami.

“Tentu tidak. Ada alasannya. Tapi aku tak ingin bercerita soal itu dahulu,” kata Yamada.

“Wakata. Tapi apa yang mau kau ceritakan?” tanya Manami heran.

“Begini. . Aku. . .” kata Yamada langsung terdiam.

“Kenapa? Kalau ngomong jangan setengah-setengah! Bikin orang penasaran tau!” seru Manami.

“Aku sulit untuk bilang kalimat itu pada Ryu-kun!” lirih Yamada.

“Heh?! Kalimat apa?” tanya Manami heran. Yamada menelan ludah.

“Aku minta maaf. . .” kata Yamada sangat pelan. Tapi, Manami masih bisa mendengarnya walau agak samar-samar.

“EH?! NANI?!!”

bersambung…


2 Comment(s)

  1. Erwan Mulya Ramdhani

    06/23/2012 pukul 9:26 am

    wah ini yg paling panjang jalan ceritanya ya dari chapter yg lain??
    dah lama gk kesini, sempet kehilangan bookmark,😄



  2. amakusakanata

    09/23/2012 pukul 1:11 am

    masa sih? wah aku gak ngitung-ngitung ._.)V
    ahahaha wah aku punya pebaca setia =)) wakakaka



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: