just for fun ^^

Tittle                        : Hard to Say I’m Sorry

Chapter tittle        : YamaShi at Loggerheads  *chap.10

Cast                          : Yamada Ryosuke, Morimoto Ryutaro, Yabu Kouta, Shida Mirai, Minami Oku dll.

Rating                     : All age! ^^

Genre                      : Friendship, Family, Drama, Crack/Comedy

.

.

.

“Unn,, Ganbatte!!” seru Manami. Chinen mengangguk pasti.

 

“Sudah sore, ayo pulang!” kata Chinen sambil berdiri diikuti Manami.

 

@Halaman menuju Asrama putra dan putri (waktunya bersamaan dengan kejadian ManaChi)

 

“Ugh! Kenapa aku jadi cemas begini ya?” tanya Ryu pada dirinya sendiri.

 

“Eh? Itu kan Shida-chan. Mengapa dia di sini? Dan.. mengapa dia menangis?” tanya Ryu pada dirinya sendiri saat melihat Shida di halaman yang membelah jalan menuju Asrama Putra dan Putri.

 

***

“Huh! Bakaaaa!!!” seru Shida sambil mencabut paksa rumput di dekatnya.

 

“Umm,, Nande Shida-chan?” tanya Ryu sambil duduk di sebelah Shida. Shida tersentak kaget.

 

“Ah, Ryu-kun.” Kata Shida dingin.

 

“Nande? Mengapa kau begitu dingin?” tanya Ryu heran.

 

“Iie. Apa yang kau lakukan di sini?!” tanya Shida sambil menatap sinis Ryu.

 

“Eh? Tadi aku ingin pulang ke Asrama dan melihatmu di sini menangis sambil marah-marah. Mengapa kau menatapku begitu sinis? Apa salahku??” tanya Ryu terheran-heran.

 

Iya yah. . kenapa aku menatap sinis Ryu-kun? Dia kan tak punya salah padaku.Baka! batin Shida. Seketika Shida merubah tatapannya seperti biasa lagi.

 

“Gomen ne~ Ryu-kun! Tadi aku terbawa amarahku..” kata Shida.

 

“Hai! Demo, ada masalah apa?” tanya Ryu.

 

“Iie.. Kau tak usah ikut campur. Kau tidak usah terlibat dengan masalahku!” seru Shida.

 

“Demo,, kau tak bisa menyimpan amarahmu itu sendiri. Aku janji tidak akan memberi tahu siapa pun! Mungkin saja aku bisa membantumu kan? Ayolahh!!” kata Ryu dengan wajah memelas. Shida sedikit bimbang dan ragu.

 

“Bagaimana? Shida-chan mau cerita padaku??” tanya Ryu. Shida diam saja.

 

“Sudah ku bilang kau tak usah ikut campur. Lagi pula aku tak ingin kau mengetahui hal ini. Cukup aku saja yang tau!” seru Shida amarahnya kembali meluap. Ryu pun mengusap-usap pelan punggung Shida.

 

“Redakan amarahmu. Masalah tak akan selesai jika kau marah terus!” ujar Ryu.

***

 

Tanpa mereka sadari, ada yang terus menatap ke arah Ryu dan Shida. Orang itu menatap Ryu dengan tatapan membunuh. Tidak hanya 1 orang, tetapi 2 orang. Hanya saja mereka mempunyai arti yang berbeda dalam tatapannya, juga berbeda tempat menatap. Saking kesalnya, 1 orang pun pergi dengan menggerutu, sedangkan 1 orang lagi tetap menatap Ryu. Sebenarnya orang ini terus mengikuti Ryu dari ruang musik sampai saat ini.

 

“Matilah kau!” kesal orang itu pelan.

 

“Sekarang aku akan tetap biarkan kau hidup! Tapi sebentar lagi…..”

 

“KAU AKAN MATI!” geram orang itu lalu pergi sambil tersenyum licik.

 

***

 

“Aku pulang!!” seru Ryu sambil masuk ke ruang F. Ternyata mereka sedang berkumpul di ruang Tv.

 

“Selamat datang, Ryu-kun!” seru Yabu.

 

“Dari mana saja kau? Lama sekali!” seru Inoo.

 

“Gomen nee! Tadi aku habis dari ruang musik lalu ke taman sebentar..” jawab Ryu sambil ikut duduk di ruang Tv.

 

“Aku masuk ke kamar!” kata Yamada pelan dan dingin lalu melangkah ke kamarnya. Ryu heran.

 

“Ada apa dengan Yama-kun?” tanya Ryu.

 

“Entahlah. Tadi dia asik mengobrol dengan kami..” jawab Daiki ikut heran.

 

“Ya, dia sempat ketawa-ketiwi tadi..” sambung Inoo.

 

“Tadi saat kau masuk wajahnya pun berubah drastis. Apa kalian ada masalah?” tanya Yabu.

 

“Emm… Setahuku tidak ada..” kata Ryu sambil mengingat-ingat.

 

“Oh ya, apa kau melihat Chinen-kun?” tanya Yabu.

 

“Iie, nande?” tanya Ryu.

 

“Benarkah? Seharusnya dari tadi dia sudah pulang. Pelajaran tambahan biasanya tidak selama ini. Apa dia pergi ke suatu tempat dulu?” tanya Daiki.

 

“Mungkin.” Jawab Ryu.

 

***

 

@ Halaman menuju Asrama Putra dan Putri

 

“Hey Mana-chan! Besok istirahat jangan sungkan-sungkan untuk bergabung dengan kami seperti dulu ya!” seru Chinen.

 

“Wakata!” seru Manami lalu menghentikan langkahnya. Chinen ikut menghentikan langkahnya.

 

“Jyanne Chi-chan!!” seru Manami sambil melambaikan tangannya.

 

“Jyanne Mana-chan!!” seru Chinen sambi melambaikan tangannya juga. Mereka pun berpisah.

 

***

 

“Kau sudah berbaikan dengan Chinen-kun?” tanya seseorang mengejutkan Manami di depan pintu Asrama Putri.

 

“Ah!! Aduh Shida-chan! Kau mengagetkan ku saja!” seru Manami.

 

“Gomen nee!” seru Shida berusaha tersenyum.

 

“Emm,, soal pertanyaanmu tadi.. Ya, aku sudah berbaikan lagi dengannya!” seru Manami sambil tersenyum.

 

“Begitu?  Omedetou!” seru Shida tersenyum paksa.

 

“Shida-chan? Kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang ada masalah. Mau cerita pada ku?” tawar Manami.

 

“Eh? Aku? Aku baik-baik saja.. Ehehehe..” kata Shida tertawa paksa sambil berjalan.

 

“Hey! Tunggu!!” seru Manami sambil memasang wajah heran.

 

***

 

“AKU PULANGGG!!!!!” seru Chinen keras sekali sambil masuk ke ruang F dan pergi menuju ruang Tv. Karena keras sekali, anggota ruang F yang berada di ruang Tv sampai menutup telinganya.

 

“Chinen-kun ini! Datang-datang langsung mengagetkan orang saja!!” seru Inoo.

 

“Aduhh! Chinen-kun ini kebiasaan sekali!!” seru Daiki.

 

“Jantungku hampir copot karena kaget tadi!!” seru Ryu.

 

“Kau ini mau bikin orang budek ya?!!” seru Yabu.

 

“Upss! Hontouni gomennasai!!” kata Chinen sambil nyengir. Tiba-tiba pintu kamar F3 terbuka.

 

“Ada apa ini? Ribut sekali! Aku jadi terbangun!!” seru Yamada kesal.

 

“Ini gara-gara Chinen-kun!” seru Daiki. Yamada pun menengok ke arah Chinen.

 

“Ehehe… Gomen ne, Yama-kun!” kata Chinen.

 

“Hai!” kata Yamada lemas lalu duduk di kursi ruang Tv. Chinen pun ikut duduk di ruang Tv.

 

“Sepertinya kau senang sekali Chinen-kun!” tebak Daiki.

 

“Nande?” tanya Ryu yang duduk di sebelah Chinen. Chinen hanya tersenyum lebar. Semua menatap Chinen heran.

 

“Hhhh… Apa kau berhasil berpacaran dengan orang yang kau suka?” tebak Yamada dengan malas. Yang lain *termasuk Chinen* terbelalak.

 

“EH???!!!” seru mereka berbarengan ke arah Yamada. Yamada pun menutup telinganya.

 

“BERISIK!!” seru Yamada. Mereka pun terdiam.

 

“Oh ya. Apa benar tebakkan Yama-kun?” tanya Ryu. Baru saja Chinen mau menjawab sudah keburu di tambah pertanyaannya.

 

“Serius? Dengan siapa?” tanya Daiki. Chinen kembali mangap untuk menjawab tapi…

 

“Pasti anak perempuan itu! Siapa namanya? Manami-chan kalau tidak salah! Iya kan???” tebak Inoo. Chinen pun berusaha untuk menjawab tapi terpotong lagi.

 

“Eh?? Manami-chan? Benarkah?? Kau serius??!!” tanya Yamada terbelalak. Chinen pun pasrah membiarkan pertanyaan dari teman-temannya keluar.

 

“Atau jangan-jangan dengan Mika-chan? Chinen-kun kan suka dengan Mika-chan.” Jawab Yabu.

 

“Tapii… Dulu kan Chinen-kun akrab sekali dengan Manami-chan! Iya kan Chinen-kun?!” seru Daiki.

 

“Tapi.. Akhir-akhir ini kan Chinen-kun dan Manami-chan sepertinya sedang berjaga jarak.” Seru Inoo.

 

“Ahh! Mungkin dengan Mika-chan!” seru Ryu.

 

“Siapa Mika-chan?” tanya Yamada.

 

“Eh?? Kau tak tau Mika-chan??” tanya Daiki.

 

“Hey! Yama-kun kan baru di sini! Jadi jelas saja dia tidak tahu dengan Mika-chan!” jelas Yabu.

 

“Entahlah dengan siapa! Yang penting TRAKTIR yaa, Chinen-kun!” seru Inoo.

 

“Ah ya! TRAKTIR!” seru yang lain. Chinen hanya diam saja.

 

“Hey! Mengapa dari tadi kau diam saja!” seru Yamada.

 

“Bagaimana aku bisa menjawab jika kalian BICARA TERUS!” seru Chinen.

 

“Upss! Gomen nee, Chinen-kun!” seru mereka berbarengan.

 

“Daijobou! Tebakan kalian salah semua! Siapa juga yang pacaran!” seru Chinen.

 

“EHH?? NANI??” seru yang lain berbarengan.

 

“Beneran! Kalian mau tau aku senang gara-gara apa?” tanya Chinen. Yang lain mengangguk.

 

“Gara-gara aku bersahabat lagi dengan Mana-chan!!” seru Chinen sambil tersenyum lebar.

 

“Benarkah?? Kapan??” tanya Yabu.

 

“Baru saja.. Oleh karena itu aku pulang telat. Saat aku keluar dari kelas tambahan aku melihat Ryu-kun pulang tanpa Mana-chan. Aku heran, lalu aku pergi ke ruang musik. Ternyata di sana ada Mana-chan yang sedang menangis..” jelas Chinen terpotong.

 

“Eh?? Mana-chan menangis? Ahhhh!! Atashi no BAKA! Kenapa aku ninggalin dia tadi! Huaaa!! BAKA!!” kata Ryu sambil mukul-mukul kepalanya.

 

“Eitss… Sudahlah! Kasihan kepalamu!” seru Daiki sambil menghentikan Ryu yang tengah asyik memukul kepalanya. *mukul kepala ko asyik sih -.-*

 

“Sudahlah! Jangan menyalahkan dirimu! Aku lanjutkan ceritaku ya!” seru Chinen lalu menceritakan bagaimana ia bisa bersahabat kembali.

 

“Wahh.. Omedetou Chinen-kun! Aku ikut senang mendengarnya!” seru Daiki.

 

“Tapi kau memang keterlaluan Chinen-kun!” seru Ryu. Hey!Say!Jump *kecuali Ryu* menengok heran ke arah Ryu.

 

“Maksudmu?” tanya Chinen.

 

“Yaa, masalahmu dengan Mana-chan! Awalnya aku tak mengira kau sejahat itu..” jawab Ryu.

 

“Kau sudah tau masalahnya? Apa Mana-chan bercerita padamu?” tanya Chinen. Ryu mengangguk.

 

“Eh?? Masalah apaa??!” tanya Yamada.

 

“Begini……” Chinen pun menceritakan masalahnya dengan Manami sampai mereka bersahabat lagi.

 

“Chinen-kun!! Kau jahat sekali!” seru Yamada kesal.

 

“Eh?? Kenapa Yama-kun jadi kesal begitu?” tanya Chinen heran.

 

“Manami-chan itu sahabatku! Aku tak akan biarkan sahabatku dalam kesulitan seperti itu!” kesal Yamada.

 

“Yama-kun! Tenang! Lagipula Mana-chan kan sudah memaafkan Chinen-kun.. Mereka sudah bersahabat lagi!” seru Ryu mengingatkan. Seketika raut wajah Yamada berubah.

 

“Ah ya.. Gomen ne~! Aku tadi terbawa amarahku!” kata Yamada. Chinen mengangguk.

 

“Tapi syukurlah! Chinen-kun dan Manami-chan sudah berbaikkan..” kata Yabu tersenyum.

 

“Jadi.. Besok istirahat Manami-chan juga Shida-chan akan bergabung dengan kita lagi seperti dulukan?” tanya Inoo.

 

“Iyup!” kata Chinen tertawa. Mendengar kata Shida, raut muka Yamada berubah.

 

“Nande Yama-kun?” tanya Daiki.

 

“Eh? Iie..” kata Yamada lirih.

***

 

Keesokkan harinya, seperti kemarin, Yamada memasak sarapan. Hey!Say!Jump makan dengan lahap sambil bercanda tawa. Hanya Yamada yang mukanya terlihat was-was, khawatir, dan sedikit mesem.

 

“Yama-kun, daijobou?” tanya Yabu sedikit khawatir.

 

“Daijobou.” Jawab Yamada lirih. Yang lain jadi berhenti becanda. Suasana berubah menjadi tidak enak.

 

Setelah makan mereka kembali berkumpul di Ruang Tv. Yabu mengulang kembali kalimat-kalimat yang ia lontarkan dulu. Setelah itu mereka pun berangkat ke kelas masing-masing.

 

***

@kelas 2-3

 

“Minna-san! Ohayou!” seru Ryu saat masuk kelas. Yamada hanya besikap seperti biasa. Dingin dan cool. Ryu dan Yamada pun segera menuju bangkunya.

 

“Ryu-kun! Kita tukeran tempat duduk ya..”  kata Yamada dingin.

 

“Eh? Wakata..” kata Ryu. Mereka pun tukeran tempat duduk.

 

“Kamiki-kun! Manami-chan, Shida-chan, dan Kanata-kun kenapa belum datang?” tanya Ryu kepada Kamiki yang duduk tak jauh darinya.

 

“Eh?  Setauku Manami-chan dan Shida-chan jam segini masih di perjalan menuju ke sini, Kanata-kun sudah datang ko. Hanya dia ke kantin dulu membeli roti. Tadi dia tak sempat sarapan.” Jelas Kamiki.

 

“Ah begitu.. Arigatou..” kata Ryu lalu melihat ke arah Yamada yang dari tadi diam saja + melihat ke luar jendela saja.

 

“Nande Yama-kun? Kau terlihat murung..” kata Ryu.

 

“Iie.. Kau tak usah khawatirkan aku..” kata Yamada dingin.

 

Tak lama, Manami dan Shida masuk ke kelas.

 

“Ohayou Minna-san!” seru mereka berbarengan sambil menebar senyum. Manami segera berlari ke arah tempat duduknya.

 

“Ohayou Ryu-kun!” seru Manami sambil tersenyum dan menyimpan tasnya di tempat duduknya yang tepat di depan Ryu.

 

“Ohayou Mana-chan!” seru Ryu sambil tersenyum.

 

“Ohayou mo Yama-kun!” seru Manami sambil melihat ke arah Yamada. Yamada hanya tersenyum tipis lalu melihat ke luar jendela lagi.

 

Shida pun datang ke meja Manami karena tempat duduknya di sebelah Manami dan di depan Yamada.

 

“Ohayou Ryu-kun!” seru Shida.

 

“Ohayou Shida-chan!” balas Ryu tersenyum. Shida pun menyimpan tasnya.

 

“Ohayou!” kata Shida dingin ke Yamada.

 

“O.. Ohayou!” balas Yamada sedikit gemetar. Segera Shida duduk di bangkunya.

 

“Eh Ryu-kun! Sepertinya Shida-chan dan Yama-kun sedang bertengkar ya!” bisik Manami.

 

“Mungkin. Mereka seperti yang tak saling kenal..” bisik Ryu.

 

“Oh ya! Kau sudah bersahabat lagi dengan Chinen-kun ya?? Cieeee!!” seru Ryu sambil tertawa.

 

“Ehehe… Iyap! Yee dasar!” seru Manami sambil memeletkan lidah. Manami dan Ryu pun tertawa bersama.

 

“Good Morning Student’s!” seru seorang guru laki-laki masuk ke kelas.

 

“Good Morning..” seru murid-murid.

 

“Siapa itu?” tanya Ryu pelan sehingga yang bisa mendengar hanya Manami, Shida, dan Yamada.

 

“Itu Keito-sensei..” jawab Manami.

 

“Dia mengajar pelajaran Bahasa Inggris..” lanjut Shida. Ryu mengangguk.

 

>>SKIP<<

 

“Good bye, student’s!” seru Keito-sensei sambil berjalan keluar kelas.

 

“Wahh… Keito-sensei fasih sekali bicara bahasa inggrisnya! Padahal terlihat jelas kalau dia itu orang jepang. Ckckckckck..” kata Ryu sambil geleng-geleng kepala.

 

“Tentu saja! Keito-sensei kan dulu sempat tinggal dan belajar di Inggris..” jelas Shida singkat.

 

“Di mana Yuto-sensei? Kebetulan aku sedang suka pelajaran biologi!” seru Manami.

 

“Tapi sayang!” sambung Kamiki.

 

“Eh? Kenapa?” tanya Manami.

 

“Tadi pagi aku bertemu dengan Yuto-sensei. Katanya, Yuto-sensei tidak bisa masuk ke kelas. Ada keperluan mendadak.” Jelas Kamiki.

 

“Wah, nganggur dong kita!” seru Yamada.

 

“Begitulah.. Tadi aku lupa meminta tugas..” kata Kamiki. Tiba-tiba..

 

“Sumimasen minna-san!!” seru seseorang memasuki kelas.

 

“Loh? Yuma-kun?” seru Manami, Shida, Kamiki, dan Kanata heran.

 

“Aku dengar di sini ada murid baru..” kata Yuma sambil mendekati Ryu dan Yamada.

 

“Kalian murid baru itu kan? Watashi Nakayama Yuma desu! Yoroshiku!” kata Yuma tersenyum. Senyum yang penuh arti.

 

“Sepertinya Yuma-kun merencanakan sesuatu..” bisik Kanata kepada Kamiki sambil terus memperhatikan Yuma yang sedang bercerita tentang keluarganya.

 

“Ya.. Mungkin kita sempat bertemu Yama-kun! Ayahmu dan ayahku adalah kerabat kerja. Senang bisa berjumpa denganmu.” Kata Yuma sambil mengulurkan tangannya. Yamada pun dengan sikap dingin dan mata yang menatap tajam Yuma akhirnya berjabat tangan dengan Yuma. Setelah itu mereka melepaskan jabatan tangannya.

 

“Emm… Manami-chan! Lama tak jumpa!” seru Yuma ke Minami.

 

“Ya, lama tak jumpa..” kata Manami ‘ogah-ogahan’.

 

“Bagaimana kabarmu? Dan temanmu di kelas 2-6 itu?” tanya Yuma kembali tersenyum. Manami sedikit terkejut.

 

“Kau bisa lihat sendiri kabarku sekarang bukan? Untuk apa kau menanyakan Mika-chan? Kau tak punya hubungan apa-apa dengannya..” seru Manami.

 

“Ah ya! Aku dan Mika-chan? Tentu saja kami mempunyai hubungan. Kami tengah berteman saat ini..” kata Yuma.

 

“Eh?! Kau jangan berbohong!” seru Manami mulai kesal.

 

“Yahh… Jika kau tak percaya kau bisa melihat keakraban kami nanti istirahat, Cantik!” seru Yuma sambil mendekatkan wajahnya ke Manami. Manami segera membuang muka.

 

“Jangan panggil aku ‘Cantik’! Aku juga punya nama! Jauhkan pula wajahmu!” kesal Manami.

 

“Nande?” kata Yuma sambil tersenyum penuh dengan arti dan tidak menjauhkan wajahnya.

 

“HEY! Mana-chan bilang JAUHKAN MUKAMU! Apa kau tidak mendengar itu?!” seru Ryu kesal dan mendorong Yuma hingga terjatuh agar menjauh dari Manami. Tetapi, yang di dorong hanya tersenyum licik.

 

“Menarik sekali! Seorang murid baru sedang berlagak menjadi pahlawan rupanya!” kata Yuma sambil berdiri dan membersih bajuya yang banyak debu.

 

“Pahlawan katamu? Aku hanya melindungi sahabatku saja! Apa itu salah?!” seru Ryu mulai mengepalkan tangannya. Manami segera memegang lengan kanan Ryu untuk menahannya.

 

“Hey! Tenang!” bisik Manami. Tapi bisikkan itu di acuhkan oleh Ryu.

 

“Aku tak ingin mencari keributan di sini.. kalau begitu! Jyanne minna-san!” seru Yuma sambil melambaikan tangan lalu pergi.

 

“Orang itu….” kata Ryu pelan dengan amarah yang masih terpancar.

 

Manami yang di bantu oleh Shida, Kamiki, dan Kanata berusaha menenangkan Ryu. Sedangkan Yamada yang dari tadi menatap tajam Yuma dan kejadian tadi hanya memejamkan mata sesaat lalu mengalihkan pandangannya. Shida menangkap kelakuan Yamada dari sudut mata kanannya.

 

Mengapa di saat seperti ini dia masih bersifat dingin? Padahal sahabatnya sedang meredam amarah yang sekarang sedang memerlukan nasihat-nasihat yang menenangkannya dari seorang sahabat, sahabat macam apa dia ini! Batin Shida sambil terus melihat sinis gerak-gerik Yamada di sudut bola matanya.

***

 

Bel istirahat pun berbunyi. Murid-murid kelas 2-3 segera berhamburan ke luar kelas kecuali Ryu, Yamada, Manami, Shida, Kamiki, dan Kanata.

 

“Kalian mau ke kantin?” tawar Kanata.

 

“Ya, tapi nanti. Kami ingin di kelas dahulu.” Jawab Shida.

 

“Kalau begitu aku dan Kamiki-kun akan pergi ke kantin dahulu. Jyanne!” seru Kanata lalu pergi ke kantin bersama Kamiki.

 

“Haa.. Hampir saja tadi kau berkelahi dengan Yuma-kun, Ryu-kun!” seru Manami.

 

“Gomen nee! Aku tadi sangat kesal.” Kata Ryu.

 

“Kau ini telah melakukan hal yang bodoh Ryu-kun!” seru Yamada dingin.

 

“Bodoh katamu?! Dia sedang membela sahabatnya kau bilang bodoh?!” seru Shida kesal.

 

“Tentu saja! Dia bisa saja bersikap santai tapi was-was kan?! Saat orang tadi sudah keterlaluan baru bertindak!” seru Yamada dengan menatap tajam Shida.

 

“Kau ini! Ryu-kun lebih baik karena dia malakukan sesuatu untuk menlindungi sahabatnya! Di bandingkan seseorang yang seenaknya menganggap sesorang sebagai sahabatnya tanpa mengubah sikapnya yang memandang orang itu sebagai orang asing!” seru Shida dengan nada menyidir. Ryu, Manami, bahkan Yamada terkejut mendengar perkataan Shida dengan berbeda alasan. Untuk menutupi ke kagettannya Yamada bermaksud untuk keluar saja.

 

“Aku ke kantin duluan!” seru Yamada berusaha untuk nada bicaranya terihat tenang.

 

“Eh? Baiklah..” jawab Manami dan Ryu. Shida hanya menatap sinis Yamada yang mulai berjalan menuju Kantin.

 

“Ada apa dengan kalian? Apa kalian bertengkar?” tanya Manami.

 

“Apa kalian sudah selesai membereskan barang kalian? Aku tunggu kalian di luar kelas!” seru Shida mengacuhkan pertanyaan Manami lalu bergi ke luar kelas.

 

“A.. Aneh.. Ada apa dengan mereka berdua?” tanya Manami melirik Ryu.

 

“Kemarin saat aku hendak kembali ke asrama, aku bertemu dengan Shida-chan..” kata Ryu.

 

“Benarkah? Lalu?” tanya Manami.

 

“Di taman dekat persimpangan jalan itu, Shida-chan terlihat sangat marah! Rerumputan di sekitarnya di cabut paksa. Saat aku menghampirinya, Shida-chan sangat dingin dan menatap sinis pada ku. Tapi pandangan dan nada dingin itu berubah seperti biasa. Sebelumnya aku melihat mata Shida-chan sedikit bengkak. Sepertinya dia telah menangis.” Jelas Ryu.

 

“Ah ya! Saat aku pulang pun Shida-chan bertingkah aneh..” kata Manami mengingat-ingat.

 

“Aneh gi mana?” tanya Ryu.

 

“Sepertinya dia melihat aku dan Chinen yang sudah kembali akrab. Di depan pintu masuk Asrama Putri, Shida-chan memberikan selamat dan senyum padaku karena telah bersahabat lagi dengan Chi-chan. Tapi, terlihat jelas senyumnya adalah senyum paksa.” Jelas Manami.

 

“Aku juga bingung dengan Yama-kun..” kata Ryu.

 

“Tentu saja.. Shida-chan dan Yama-kun itu kan mengubah sikapnya jika mereka berdua terlibat dalam suatu obrolan..” kata Manami.

 

“Bukan itu! Ini soal…..” kata Ryu terhenti.

 

“Soal apa? Mengapa raut mukamu menjadi sedih begitu?” tanya Manami.

 

“Karena Yama-kun pun menjadi sangat dingin padaku..” keluh Ryu.

 

“Eh??!” seru Manami tak percaya.

 

“Sungguh! Aku tak bohong!” seru Ryu.

 

“Ah! Tak mungkin! Sepertinya itu hanya perasaanmu saja, Ryu-kun!” seru Manami.

 

“Mungkin…” kata Ryu lemas.

 

“Ayo cepat! Kasihan Shida-chan menunggu di luar..” kata Manami sambil berdiri.

 

“Eh? Iya iya.. Ayo!” seru Ryu. Manami dan Ryu pun keluar.

 

@Koridor kelas 2-3

 

“Shida-chan!!” panggil Ryu dan Manami.

 

“Aduhh!! Kalian ini lama sekali!” seru Shida.

 

“Ehehehhe…” kata Manami dan Ryu cengengesan.

 

“Ya sudah! Ayo ke kantin!” seru Shida.

 

@Kantin

 

“Kalian berdua duduk saja dulu! Biar aku yang memesan.” Kata Ryu.

 

“Serius?” tanya Shida. Ryu mengangguk.

 

“Eh! Duduk bersama kelompokmu saja yuk!” tawar Manami.

 

“Ah ya! Boleh boleh!” seru Ryu.

 

“EH??!!!!” seru Shida kaget.

 

“Nande?” tanya Manami.

 

“Eh? Iie.. Terserah kalian saja..” kata Shida dengan raut wajah yang aneh.

 

“Wakata. Pesan apa?” tanya Ryu.

 

“Aku roti strawberry dan jus strawberry saja..” kata Shida.

 

“Aku roti nanas dan milkshake saja..” kata Manami.

 

“Emm.. Wakata! Kalian tunggu saja! Itu kursi mereka!” seru Ryu sambil menunjuk bangku yang berisi 5 orang anak laki-laki.

 

“Unn.. Arigotu Ryu-kun!” seru Shida dan Manami.

 

Mereka pun berpisah. Ryu memesan makanan, Shida dan Manami pergi untuk duduk di bangku kelompok Hey!Say!jump.

 

@Bangku Hey!Say!Jump

 

“Ah! Mana-chan!!” teriak Chinen.

 

“CHINEN!!!!!!!!” seru anggota yang lain.

 

“Ups! Hontouni gomennasai!” seru Chinen.

 

“Ahahahha.. Kau ini!” seru Manami dan Shida. Seketika raut wajah Yamada dan Shida berubah. Tapi tak ada yang memerhatikan.

 

“Cieeeee… Yang udah temenan!” goda Yabu, Daiki, dan Inoo.

 

“Ih! Apaan sih? Salah ya kalau kita temenan!” seru Manami.

 

“Gak! Bagus aja! Berarti akur lagi kaya dulu dong!” kata Daiki.

 

“Ehehehe.. Oh ya! Aku dan Shida-chan boleh gabung di sini gak?” tanya Manami.

 

“Tentu saja! Kalian kan sudah kami anggap sebagai anggota kelompok ini juga!” kata Yabu tersenyum.

 

“Arigatou!” seru Manami dan Shida.

 

“Ayo duduk!” seru Inoo.

 

Manami dan Shida pun mencari tempat duduk. Tapi mereka bingung. Tempat duduk yang kosong memang ada 3; 1 di sebelah Daiki, 1 di sebelah Chinen,1 di sebelah Daiki.

 

“Nande?” tanya Daiki.

 

“Kalian pusing memilih tempat duduk ya?”  tanya Chinen. Manami dan Shida hanya nyengir.

 

“Tak usah ambil pusinglah! Kalian tinggal pilih saja!” seru Inoo sambil sedikit tertawa.

 

“Iya iya.. Chi-chan! Aku duduk di dekat mu yak!” kata Manami sambil menghampiri Chinen.

 

“Tentu! Silahkan Mana-chan!” seru Chinen. Manami pun duduk di samping Chinen dan Inoo.

 

“Cieee…. Yang udah sahabatan mangilnya beda yaa!!”  goda Inoo sambil melirik-lirik ke Manami dan Chinen.

 

“Apa sih Inoo-kun! Aku dan Mana-chan ini hanya sahabtan saja! Kau cemburu yaa??” Chinen balik goda (?).

 

“Eh? Iie.. Ngapain juga aku cemburu?” kata Inoo sambil mengalihkan pandangannya menuju jus alpukatnya.

 

“Oh ya, Inoo-kun, ini ku kembalikan! Hontouni gomennasai!” kata Manami sambil menyerahkan sapu tangan Inoo.

 

“Eh? Kenapa minta maaf?” tanya Inoo bingung sambil menerima sapu tangannya.

 

“Inoo-kun meminjamkan sapu tangan ini ke aku kan sudah lama, sedangkan aku baru mengembalikan sekarang.. Ehehehe….” jawab Manami cengengesan.

 

“Ohahaha… kau ini!” kata Inoo sambil tertawa.

 

“Memang kapan Inoo-kun meminjamkan sapu tangan itu? Lalu Manami-chan sedang apa sampai-sampai Inoo-kun meminjamkan sapu tangannya?” tanya Yabu bertubi-tubi di sertai tatapan-tatapan bingung dari yang lain.

 

“Soal itu…….” kata Inoo melirik Manami agar Manami yang jawab.

 

“RAHASIA dong! ahahahahaha….” kata Manami tertawa.

 

“Yahhh… Manami-chan jahat!” seru Shida cemberut. Manami hanya nyengir.

 

“Inoo-kun! Aku mohon rahasiakan ini yaaa… Malu aku!” bisik Manami.

 

“Iya deh..” Inoo menyetujui.

 

“Hey Shida-chan! Ayo duduk!” kata Daiki.

 

“Eh? Iya iya. Dai-kun, aku duduk di sampingmu ya! Aku mau bicara tentang jadwal piket di perpustakaan yang baru! Kau dan aku kan di tugaskan untuk membuatnya!” seru Shida sambil duduk di dekat Daiki.

 

Shida sengaja memilih duduk di samping Daiki. Shida ingin menjauh dari Yamada, walau tempat duduknya yang sekarang tidak terlalu jauh dari Yamada. Yamada duduk di samping Daiki. Masih ada 1 bangku tersisa, yaitu bangu di sebelah Yamada. Yamada dia saja.

 

“Eh? Wakata.. Memang kenapa? Bukankah tinggal di susun saja?” tanya Daiki.

 

“Emm… Tadi pagi Riku-kun meminta jadwalnya jangan hari Rabu dan Kamis, sedangkan di jadwal yang kita buat, Riku-kun itu hari Rabu.” Kata Shida.

 

“Wah… Repot juga yak..” kata Daiki.

 

“Bagaimana jika pulang sekolah nanti, kita adakan rapat pengurus?” usul Shida.

 

“Kurasa tak bisa. Ini terlalu mendadak. Lagipula jadwal ini harus diserahkan besok.” Kata Daiki.

 

“Apa pulang sekolah nanti kau kosong?” tanya Shida.

 

“Em….. Hey! Aku hari ini kosongkan?” tanya Daiki ke teman sekelompoknya.

 

“Ya ampun! Kau selalu mengejekku karena tak hafal jadwal sendiri. Eh ternyata, Dai-kun pun sama saja!” kata Chinen geleng-geleng.

 

“Ehehehe… Gomen nee~” kata Daiki cengengesan.

 

“Hmm… Kalau aku tak salah, kau kosong.” Kata Yabu sambil berfikir.

 

“Bagus! Memang kenapa Shida-chan?” tanya Daiki.

 

“Bagaimana pulang sekolah nanti kita keliling kelas dan bertanya pada anggota?” usul Shida.

 

“Boleh! Tapi kita kumpul di mana?” tanya Daiki.

 

“Di mana ya? Dai-kun yang kasih usul dong!” kata Shida.

 

“Hmmm…. Di kelasmu saja! Oke?” tawar Shida.

 

“Wakata..” kata Shida bertepatan datangnya Ryu.

 

“Ha! Gomen nee~ aku telat!” seru Ryu.

 

“Hey! Pesanan aku dan Shida-chan mana?” tanya Manami sambil ketawa.

 

“Ya ampun.. kau sudah lapar yak? Nanti di antar ke sini!” jawab Ryu sambil celingak-celinguk.

 

“Nande?” tanya Yabu.

 

“Eh? Iie,,” kata Ryu sambil berjalan untuk duduk di dekat Yamada.

 

“Aku duduk di sebelahmu ya, Yama-kun!” seru Ryu. Yamada hanya menengok dan kembali terpaku dengan minumannya.

 

“Unn,,” jawabYamada lemas.

 

“Nande? Kau sakit?” tanya Ryu. Yamada diam saja. Ryu melihat Manami yang duduk di hadapannya. Ryu seakan-akan bilang, ‘Apa kataku.. Yama-kun sepertinya marah padaku’. Manami sedikit bingung.

 

“Mana-chan! Apa yang terjadi?” tanya Chinen berbisik.

 

“Entahlah.. Hanya saja, Yama-kun dan Shida-chan sepertinya sedang bertengkar. Dan….” kata Manami terpotong.

 

“Nande?” tanya Chinen.

 

“Yama-kun juga sepertinya marah pada Ryu-kun..” bisik Manami.

 

“Eh? Tapi mereka kan bersahabat. Erat sekali..” kata Chinen tak percaya.

 

“Entahlah.. Emm, Chi-chan, lihat itu!” kata Manami sambil menunjuk ke arah pintu masuk kantin. Chinen pun melihat ke arah yang di tunjuk Manami.

 bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: